Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 14 Oktober 2018)

Sihir Didgeridoo ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa
Sihir Didgeridoo ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

SUASANA gerah. Musim panas membuatku enggan untuk lekas masuk ke dalam gedung Wharf Road Community and Refugee Welcome Center. Meski orang-orang sudah mulai berdatangan dan mengambil tempat masing-masing. Entah mengapa kedua kakiku justru bersekongkol dengan kedua mataku. Tengah terpaku dengan sosok asing (ah, semua orang di sini juga asing kecuali beberapa) yang tengah mematung di sudut halaman gedung.

Make up yang menghiasi sekujur tubuhnya mengingatkanku pada orang Aborigin. Apa yang hendak dilakukannya dengan semacam seruling raksasa di tangannya? Apakah dia sengaja ‘dipasang’ di situ memang untuk menyambut kedatangan kami?

Tak lama kemudian, ketika dia mulai meniup alat musiknya itu. Ajaib sekali, seperti ada yang tersedot dari dalam dadaku. Kesadaran….

Selama beberapa menit aku tak bisa menolak sensasinya. Seperti ketika kau berada dalam buaian sebuah perahu. Bebunyian ini seolah berusaha memanjakan telingaku. Naik turun, naik turun, mengikuti melodi yang seolah begitu paham dengan kondisi jiwaku.

Apakah ia seorang seniman kenamaan? Aku rasa dia telah berhasil membiusku, membawaku ke sebuah lorong waktu. Sepertinya masa lalu.

Entah bagaimana aku bisa melihat barisan tentara yang berdatangan dari seberang lautan. Tampak gagah, namun kondisi mereka memprihatinkan. Lusuh, tirus, dan lamban, seperti orang kurang makan, kurang istirahat dan baru saja melewati kesedihan yang luar biasa. Ketika melihat ke arahku, pancaran harapan sekian waktu lenyap entah ke mana seolah baru saja terbit dari wajah mereka.

Aku berusaha menghalau ketika mereka berjalan penuh  antusiasme ke arahku. Aku baru sadar, diriku ternyata adalah sebuah bayangan yang nyata. Meski aku dapat melihat dan merasakan, namun tubuhku tak memiliki raga. Para tentara sempoyongan itu dengan leluasanya memasuki tubuhku,  bahkan kemudian membangun rumah-rumah di sana.

Advertisements