Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 14 Oktober 2018)

Sepasang Matryoshka ilustrasi Bambang Pramudiyanto - Kompas.jpg
Sepasang Matryoshka ilustrasi Bambang Pramudiyanto/Kompas 

Melalui kotak pesan daring Anna mengonfirmasi ia akan datang dua pekan lagi, yang berarti hari ini. Tidak perlu menyiapkan apa-apa, aku adalah bagian dari keluarga, bukan tamu istimewa, tulisnya gede rasa. Memang dikiranya aku akan menggelar karpet merah di bandara? Tapi, toh kubalas dengan gambar wajah kuning bulat menyeringai jenaka, meski saat mengetiknya mulutku mengerucut, bersungut.

Aku tak benar-benar berminat menerima kedatangannya, jauh hari, dekat hari, terencana atau tiba-tiba, bagiku sama buruknya. Setelah korespondensi panjang lewat media sosial yang entah bagaimana permulaannya itu, akhirnya Anna mengaku sebagai saudara kembarku.

Dia tuliskan, saat dikirim untuk belajar kedokteran di Universitas Saint Petersburg, Bapak kami jatuh cinta pada seorang mahasiswi lokal yang kelak ia menjadi ibu kami. Kisah cinta mereka mekar di semester ketiga perkuliahan, sejak pertemuan tak sengaja di lorong manuskrip Melayu di perpustakaan umum Saltykov-Shchedrin. Itu terjadi kira-kira satu sampai dua dekade setelah peristiwa proklamasi.

Baca juga: Telepon dari Istanbul – Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 23 Oktober 2016)

Pertengahan tahun enam puluhan Bapak lulus dan berencana membawa pulang Ibu, tapi gagal. Situasi panas di tanah air waktu itu. Pemerintahan lama dikudeta, rezim baru melarang alumni luar negeri kembali, pukul rata semua dianggap berbaluan kiri jika menolak menandatangani pernyataan mengutuk pemimpin terguling. Bapak termasuk yang menampik karena merasa berutang budi sudah diberi kesempatan sekolah tinggi. Jadilah ia pelarian, diburu sampai ke Vietnam. Kami berdua lahir di tengah sisa kecamuk perang, di Ho Chi Minh City yang masih porak-poranda. Ibu lalu membawa Anna kembali ke Leningrad dan aku dititipkan kepada entah siapa, pulang ke Amlapura. Bapak tetap tinggal dan menjadi dokter rumah sakit militer setempat. Setelah itu, semua gelap. Tak ada kabar. Ibu hanya mendengar Bapak tertembak, jasadnya tak terjejak.

***

Advertisements