Cerpen Febbi Sena Lestari (Pikiran Rakyat, 14 Oktober 2018)

Eyes ilustrasi Rifki Syarani Fachri - Pikiran Rakyat.jpg
Eyes ilustrasi Rifki Syarani/Pikiran Rakyat 

AROMA sedap rempah hangat yang khas merebak ke seluruh ruangan. Tampak seorang pria mengeluarkan berloyang-loyang kue berbentuk manusia dengan aksesori tiga kancing baju dari oven. Serbak jahe memanja indra penciuman, membuat ingin segera menyantap barang dua buah. Sesekali ia menyingkirkan peluh yang sedikit mengganggu dengan lengan baju yang ditekuk hingga siku. Hawa sauna dari kepulan asap menyerbu ruangan berbata merah itu.

***

 “Hai, Pria Jahe. Baru matang?” Seorang pemuda yang sebaya dengannya menyapa dengan basa-basi seperlunya.

“Oh, hai juga. Seperti yang kau lihat, baru dikeluarkan dari oven. Akan tetapi, kue pesananmu sudah kusiapkan terlebih dahulu. Ini pesananmu. Masih hangat.”

Setelah mengucap sepatah kata terirna kasih, orang itu menyodorkan beberapa uang dan pergi. Pria Jahe, begituiah orang mernanggilnya, segera beranjak dengan meninggalkan banyak kue jahe yang masih panas.

Baca juga: Dilarang Melamun di Kelas – Cerpen Andri Wikono (Pikiran Rakyat, 30 September 2018)

Ketika berniat menyimpan beberapa penghasilan di tempat biasa, pandangannya teralihkan pada kalender yang menggantung menutupi retakan kecil di dinding. Ia sadar bahwa hari semakin rnendekati angka yang dilingkari tinta merah. Hatinya bergemuruh, sementara kedua tangan yang setiap hari bergulat dengan adonan kue itu mengambil sebuah wadah di sudut kamar dan mengeluarkan isinya.

“Satu, dua, tiga…”

Advertisements