Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 14 Oktober 2018)

Petang di Taman ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Petang di Taman ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

“SEMUA ini karena kau terlambat bangun pagi,” kata Wina. Ia mendesah panjang dan mengundurkan perlahan-lahan punggungnya pada bantalan kursi.

“Siapa yang tahu kalau akan hujan?” kataku membela diri. Aku dapat mencium bau napasku yang tak sedap. Selepas bangun pagi, aku hanya mencuci muka, berganti baju, membawa tas dan ransel yang sudah penuh dengan barang-barang ke kios. Semua kulakukan terburu-buru karena takut terlambat. Tapi, pagi itu jam sepuluh, Wina sudah membuka kios dan menggeser kursi yang biasa ia duduki saat menunggu pelanggan ke depan pintu geser.

“Bukan masalah hujannya, Nak,” katanya. “Kita mungkin bisa sampai ke terminal lebih cepat dan tidak harus menunggu hujan reda.”

Baca juga: Togel – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 19 Agustus 2018)

Aku melihat ke luar. Hujan semakin lebat. Rinai hujan itu seperti membentuk selimut tebal yang sukar ditembus. Aku tidak dapat melihat toko di seberang kios kami. Barangkali, hujan ini akan berlangsung terus sampai sore.

“Maafkan, Nyonya…”

“Jangan panggil aku Nyonya!” bentaknya. Ia menoleh padaku. Aku tidak melihat siratan kemarahan dalam sorot matanya yang tajam. Aku memerhatikan matanya yang sembab dan merah. Ia terlihat seperti orang yang habis menangis atau kurang tidur.

“Berapa tahun kau mengenalku? Dan kini, kau tiba-tiba memanggilku Nyonya.” Ia mendelikkan matanya.

Advertisements