Cerpen Rachmat Faisal Syamsu (Fajar, 14 Oktober 2018)

Namaku, Andi Gempa Nulanda ilustrasi Fajar
Namaku, Andi Gempa Nulanda ilustrasi Fajar

Sore itu gempa menghantam Kota tempat tinggalku berulangkali, menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geoflsika (BMKG) yang disiarkan di televisi, gempa tersebut secara berurutan berada pada kekuatan magnitudo 6,3, 6,9, dan 7,3 dengan kedalaman yang sama 10 km di bawah dasar laut.

Kotaku memang telah lama diketahui adalah termasuk ke dalam wilayah yang rawan dilanda gempa bumi dan tsunami. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa, Kotaku termasuk wilayah dengan banyaknya patahan yang tidak beraturan. Hal ini disebabkan karena Kotaku berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yakni Pasifik lndo-Australia dan Eurasia lempeng Indo-Australia masuk ke bawah Eurasia dan bertemu lempeng Pasifik. Sepanjang tahun lalu Kotaku dihantam gempa sebanyak 1.572 kali di mana 51 kali adalah gempa besar yang dirasakan oleh masyarakat.

Selebihnya hanya gempa kecil yang bahkan bisa terjadi puluhan kali dalam sehari yang tentunya tidak dirasakan sama sekali. Jadi gempa sudah seperti makanan sehari-hari kami di Kota ini. Kami telah beradaptasi dan paham akan hal itu. Ketika terjadi gempa, semua aktivitas tetap berlangsung seperti biasa, gempa akan berhenti dengan senditinya dan keadaan akan kembali seperti semula. Hanya ada ucapan istighfar sesekali yang berakhir bersama hilangnya geteran-getaran gempa.

Baca juga: Gadis di Atas Pesawat – Cerpen Osella (Fajar, 12 Agustus 2018)

Kecuali sore itu, Jumat (24/8). Gempa yang menghantam Kotaku beda. Kekuatannya sangat dahsyat. Ini bukanlah gempa yang biasa kami rasakan sehari-hari sebelumnya, ini beda. BMKG menginfokan gempa pertama terjadi dengan kekuatan magnitudo 6,3, pukul 16.30 WIB. Kemudian dengan kekuatan magnitudo 6,9, pukul 16.35 WIB. Dan yang terakhir yang paling kuat dengan kekuatan magnitudo 8,3 pukul 16.39 WIB. Puluhan rumah, gedung tempat perbelanjaan, dan hotel, roboh. Jalanan retak, jembatan putus, dan masyarakat berlarian keluar menyelamatkan diri dari kepungan reruntuhan bangunan.

Advertisements