Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 14 Oktober 2018)

Musuh Bebuyutan ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Musuh Bebuyutan ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

Kau tahu kenapa aku memanggilmu datang? Aku kira sudah terlalu lama kau sembunyi. Sudah waktunya beraksi lagi. Ya, aku tahu, perjalanan menuju kota ini memang berat. Melelahkan. Tapi tenang. Aku tak akan mengecewakanmu. Begini. Aku mendapat musibah berat dan besar. Ini semua karena Marda. Dia yang membuat aku jadi begini. Aku ingin melihat dia juga menderita. Agar kau paham duduk perkaranya, aku ingin ceritakan tentang sesuatu kepadamu.

Ya, malam itu, karena lelah setelah seharian mengikuti rapat di kantor, tanpa terasa aku tertidur di kursi ruang kerja rumahku. Tak lama kemudian, aku bermimpi. Aku melihat lima burung bertengger di atas meja kerjaku. Suasana begitu mencekam. Aku tidak suka dengan keberadaan mereka. Ingin mengusir mereka. Tapi tidak bisa. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Seperti ada kekuatan gaib mengunci tubuhku. Hanya mulut dan dua bola mataku saja yang bisa digerakkan. Akhirnya, kerena tidak bisa berbuat apa-apa, aku membiarkan mereka.

Baca juga: Sepotong Roti Hijau – Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)

Kemudian aku merasakan suatu keanehan. Rumahku yang biasanya ramai dengan suara Noni, tiba-tiba menjadi sepi. Padahal, hari masih siang. Bahkan, detak jam pun tak terdengar. Ke mana suara-suara pergi, juga di mana Noni berada, aku tidak tahu. Aku pun menaruh curiga. Jangan-jangan burung-burung itu telah memangsa Noni. Sebab mereka sama sekali tak tampak seperti burung yang biasa aku lihat di sawah-sawah, atau di ranting-ranting pohon, atau di kabel-kebal listrik, atau di TV, atau di tempat lainnya. Tubuh memang kecil, tapi paruh mereka panjang dan besar. Mereka memiliki daun telinga lancip, ekor panjang, bulu-bulu hitam legam dan mata merah seperti bola api yang membara. Aku pun berprasangka, mereka burung kiriman dan memiliki kekuatan gaib. Langsung aku menuduh Marda. Ya, hanya dia musuhku. Dia yang selalu berusaha mencelakai aku dengan cara-cara halus (sihir/ilmu hitam). Untung tubuhku sudah diberi mantra penangkal sihir sama Pakde. Kalau tidak, aku pasti mampus pada serangan sihir pertama.

Advertisements