Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Oktober 2018)

Maria dan Mario ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka
Maria dan Mario ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Ketika titik-titik air pertama, yang sebesar kerikil itu, berjatuhan, Mario sudah menduga hujan akan berlangsung lama. Seperti malam-malam tua. Dan Maria, ia sudah menelan alamat kurang menyenangkan itu dari hawa dingin yang menepuk-nepuk tengkuknya. Mario dan Maria menepi. Harus menepi.

“Merapatlah,” lirih Mario seraya merengkuh tubuh Maria.

Perempuan pincang itu lekas merapat. Dua anak manusia itu bergerak mundur beberapa senti hingga punggung mereka menyentuh dinding. Maria membayangkan titik-titik air itu adalah peluru-peluru yang berdesingan dari langit. Harus dihindari. Harus dijauhi.

“Hujan tak pernah bilang mau turun,” gerutu Maria dengan suara serak.

“Begitulah hujan,” balas Mario datar, seperti tak berbicara pada siapa pun.

Baca juga: Laki-laki yang Kawin dengan Babi – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 06 Mei 2018)

Di punggung trotoar renta, di teritis kios yang tutup dan tanpa penerangan itu, mereka mirip pohon kaktus tua yang tak terurus, compang-camping, dan mungkin hampir tumbang. Dua gelandangan yang lelah memandang hidup, tetapi tak pernah tahu bagaimana harus mengakhiri. Usia yang terus bertambah itu bagai tahun-tahun penuh wabah. Masa tua yang amit-amit, pikir Maria, kadangkala. Entah bagaimana Mario memikirkannya.

Malam dan hujan seperti memiliki wajah hitam yang tertawa-tawa di hadapan mereka. Tangan Mario seperti sepasang ular keriput yang menelusup ke dalam semak-semak jaket kumal, mencari kehangatan. Mario bersedekap. Sementara Maria menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang gemetar. Barangkali ia membayangkan percik api akan muncul dari selasela telapak tangan dan menghangatkan tubuh tua mereka.

Advertisements