Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 14 Oktober 2018)

Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah ilustrasi Istimewa.jpg
Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah ilustrasi Istimewa 

DI MALAM ITU, Kameswari melihat Bandit di lorong sempit sebuah toko kelontong di kota ini, dan memutuskan untuk mencintainya pada detik ketiga, setelah lelaki itu mengencingi sebuah tong sampah. Ia sendiri tahu, itu adalah sebuah kegilaan dan hampir tidak percaya dengan perasaannya sendiri, tetapi tentu saja, tidak ada yang salah ketika kau jatuh hati, bukan? Bahkan, ketika malaikat jatuh cinta pada setan sekali pun, Tuhan akan memilih untuk menyerah, demikian yang pernah dikatakan ibunya ketika satu kali ia bertanya mengapa ibu masih bertahan dengan seorang anjing di dalam rumah mereka.

Perempuan itu masih tertegun penuh keriangan di bawah pohon trembesi, sambil terus mengintai Bandit di lorong sempit yang mulai menggetar-getarkan tubuh karena kelegaan yang luar biasa. Ia tersipu malu, sambil menyembunyikan tubuh perawannya di punggung kegelapan yang paling pekat dan likat.

Bandit akhirnya menyelesaikan hajat yang sedikit kurang ajar itu. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya di dinding, lalu mencium sejenak, setelah yakin tangannya tidak bau kencing sendiri, ia mulai beranjak. Langkahnya tertatih dan sedikit goyah, dan Kameswari hampir-hampir saja melesat untuk membantu, tetapi segera urung. Kameswari terlalu malu bertatap muka dengan orang yang dicintainya.

Baca juga: Bagaimana Bandit Mulai Mencintai Lemari Pakaian Itu dan Kisah-Kisah Cinta Mengerikan Lainnya – Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 22 Juli 2018)

Di masa muda, Kameswari juga pernah jatuh cinta, tapi bukan pada seorang pemuda. Ia jatuh cinta pada seekor anjing yang mengencingi pohon kesemek milik ibunya di suatu senja yang menyala. Anjing itu berwarna hitam, berekor pendek, dan bermata kecokelatan. Lidahnya terjulur begitu panjang dan meneteskan liur yang berlimpah, tetapi cinta tidak membuat Kameswari merasa jijik. Ia seketika mendekat, mengelus-elus kepala dan leher anjing jinak itu dan mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa anjing itu tidak dimiliki seorang pemilik.

Ketika Kameswari membawa anjing itu masuk ke dalam rumah, ibunya begitu marah. Dengan mata membuntang perempuan berambut keriting dengan tumpukan lipatan kesedihan di bawah matanya itu menghardik, “Buat apa kau membawa anjing ke rumah kita, Wari? Dia akan membuat rumah kotor dan bau, dan kau tak bisa merawat seekor anjing!” Lalu dengan santai Kameswari menjawab, “Jika Ibu bisa hidup bertahun-tahun dengan seekor anjing, kenapa aku tidak?” Seketika wajah ibunya merah padam.

Advertisements