Cerpen Shinta Putri Wulandari (Republika, 14 Oktober 2018)

Kupu-Kupu Bersayap Elang ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Kupu-Kupu Bersayap Elang ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Aku berdiri di balik bibir jendela, melayangkan pandanganku pada beberapa kupu-kupu yang sedang berteduh. Kuamati sayap kupu-kupu yang terlihat begitu indah. Pada sayapnya terdapat sisik-sisik yang berwarna-warni dan berderet rapat.

“Itulah kupu-kupu, meski sayap kupu-kupu tidak dapat terbang jauh lebih tinggi dari elang, bukan berarti kupu-kupu lemah. Mungkin jika bisa bertukar sayap, kupu-kupu juga mau terbang ke awan seperti elang. Tapi, kita tak bisa memaksakan ke hendak, semua sudah ada porsinya masing-masing,” ucap Ibu pada suatu sore yang hangat.

***

Sudah dua bulan sejak kedatangan tamu di hari itu, rumah kecil ini mendadak ramai. Tamu itu adalah seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, jurusan seni tari. Namanya Alina, anak-anak memanggilnya Kak Alin. Aku masih ingat sekali hari itu, hari kedatangannya. Saat itu kedatangannya baru yang pertama kali, tetapi mereka sudah sangat dekat. Semua anak sangat antusias menyambutnya, Kak Alin pun membalas sambutan mereka penuh hangat. Hanya aku yang masih diam di kursi ruang tamu, menatap mereka dari kejauhan, sama sekali tak ingin beranjak. Aku sudah mendengar tentang Kak Alin sebelumnya. Bunda Riani yang menceritakannya. Kudengar Kak Alin akan menjadi relawan guru tari di rumah singgah ini. Semua anak bersorak-sorai mendengar berita gembira itu, kecuali aku.

Baca juga: Angku Zainal – Cerpen Adam Yudhistira (Republika, 26 Agustus 2018)

“Kak Alina sudah datang teman-teman!” Teriak Ratih sambil berlari menuju pintu diikuti anak-anak yang lainnya.

Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok berwarna merah muda. Ratih, Hani, dan Lila menggelayutkan tubuh mereka sambil menarik jemari Kak Alin, mereka terlihat sangat akrab. Satu per satu dari mereka mencium tangannya yang dibalas dengan pelukan hangat. Mereka bersama-sama menuju ke ruang tari yang telah dipersiapkan Bunda Riani kemarin. Kak Alin sempat menatapku dari kejauhan dan melemparkan senyumnya untukku. Aku memalingkan muka dengan tanpa membalas senyumnya. Aku iri.

Advertisements