Cerpen Agus Salim (Radar Mojokerto, 14 Oktober 2018)

Epilog ilustrasi Radar Mojokertow.jpg
Epilog ilustrasi Radar Mojokerto

Tiba-tiba laki-laki dengan bentuk tubuh sepanjang ukuran pensil muncul dari langit-langit kamar. Tidak ada retakan. Apalagi lubang. Semuanya baik-baik saja. Ia muncul seperti gelembung yang ditiup. Lalu ia terbang seperti kecoa linglung. Mendarat di meja. Berdiri. Berkacak pinggang. Memandang layar. Ia membaca. Terus membaca. Setelah puas, berbalik badan. Duduk bersila. Menatapku. Tajam. Sepertinya marah.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ada yang memindahkan kasur. Entah ke mana. Atau, aku yang telah pindah kamar? Tidak, tidak. Aku tidak beranjak ke mana-mana. Ini masih kamar yang sama. Seingatku, tadi aku hanya merasa buntu memikirkan epilog cerita yang aku buat. Lalu terpejam sejenak. Sekadar ingin menenangkan pikiran. Apa aku tertidur? Entahlah.

Laki-laki itu menyalakan rokok. Mengisap asapnya. Lalu menyemburkannya. Kini di depan layar berkabut. Ia menatapku lagi. Tersenyum sinis. Seolah mengejekku. Jangan-jangan ia punya niat jahat. Aku harus waspada.

“Kau ingat aku?” tanyanya. Seolah menantang. Aku menggeleng.

“Ya. Sudah terlalu lama,” katanya, “terlalu lama. Dan aku datang kemari karena kau sedang membuat cerita tentang Marni.”

Aku bingung. Tidak paham. Jadi, aku memilih mendengarkan saja.

“Aku Sudar. Apa kau tidak ingat?” tanyanya, memaksa. Aku menggeleng.

“Ya. Sudah terlalu lama,” katanya, mengulang kalimat tadi.

“Apa begitu caramu memperlakukan Marni?” tanyanya sambil memanah layar dengan telunjuknya.

“Apa kau tidak tahu, kalau aku masih mencintai Marni?” ia bertanya lagi. Telunjuknya masih mengarah ke layar.

“Aku yakin kau sudah lupa ingatan,” katanya, menghakimiku. “Sepertinya aku datang pada waktu yang tepat.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kehadirannya yang tiba-tiba benar-benar membuat aku tak berkutik.

“Kau boleh melupakan aku,” katanya lagi. “Tapi jangan buat Marni menderita. Cukup aku saja yang kau buat menderita. Biar kau ingat, baiknya aku kisahkan kembali bagaimana kau buat aku menderita dalam cerita yang dulu pernah kau buat. Simak baik-baik agar nanti kau tidak sembarangan memperlakukan Marni.”

Aku menganggukkan kepala. Menurut.