Cerpen Ryan Rachman (Kedaulatan Rakyat, 14 Oktober 2018)

Bohong ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Bohong ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SISOL hanya terdiam dan menunduk. Walau sesekali membalas tatapan Sidar, sekilas saja. Dalam sekilas itu, Sisol melihat wajah Sidar menegang. Keringatnya keluar membuat kulit hitamnya berkilap. Hidungnya mendengus seperti cerobong asap pabrik kayu. Udara disedot dan dimuntahkan cepat-cepat. Berkali-kali.

Mata Sidar menyala. Urat-uratnya memerah seperti cacing bercabang. Sesekali kelopaknya berkedip membasuhkan air mata. Namun air mata itu hanya berkilau sebentar lalu menguap. Tatapnya meruncing dan melesat menusuk mata Sisol yang ada di depannya.

Baca juga: Kesetiaan Kader – Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 23 September 2018)

Dari tatapan Sidar, Sisol tahu kalau ada rasa geram, sakit, luka, kecewa, sedih, marah di hati suaminya. Untuk kesekian kali, Sisol membohongi suaminya. Dia bingung mau berkata apa pada Sidar.

“Maafkan aku, Kang,” Sisol membuka percakapan. Sidar terdiam.

“Aku tak bermaksud membohongimu,” kata Sisol tertunduk. Sidar masih membisu.

“Aku menyesal, Kang,” air matanya mulai menetes.

Sidar belum juga bersuara. Laki-laki itu masih berusaha untuk meredam amarahnya. Dia tak ingin memuntahkan serapah kepada perempuan yang dinikahi tiga tahun lalu. Jangan sampai tangannya terbang ke pipi yang biasa ia cubit-cubit gemas tiap pagi dan malam.

Baca juga: Toa – Cerpen Herumawan PA (Kedaulatan Rakyat, 02 September 2018)

Awalnya Sidar sangat marah mengetahui dengan matanya sendiri, istrinya berboncengan sambil memeluk mesra laki-laki lain. Satpam dari pabrik tempat Sisol bekerja. Sidar tahu saat dia diajak ke kota oleh tetangganya naik mobil tadi siang.

Memang, sejak Sidar jatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira dua tahun lalu, sebagai laki-laki dia tidak bisa apa-apa lagi. Lumpuh. Sidar hanya bisa keliling rumah dan halaman dengan kursi roda. Sidar tak bisa lagi memberi nafkah lahir batin. Sejak saat itu, istrinya yang kerja cari uang sebagai buruh pabrik bulu mata palsu di kota ini.

Advertisements