Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 14 Oktober 2018)

Bidadari yang Tersesat di Neraka-2 ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Bidadari yang Tersesat di Neraka ilustrasi Budiono/Jawa Pos

(Bagian 2-Habis)

IV

Di kota yang tidak pernah tidur, bising, sibuk, ingar bingar suara logam baja, besi dan tembaga, mesin dan putaran bahan bakar membakar udara ini, kau kisahkan bagaimana pada akhirnya engkau memilih bergerombol dengan pria yang membuatmu kemudian mengerti bagaimana mereka menyimpan rahasia demi rahasia. Bukan saja pada perempuan lain atau pada anak-anak mereka sendiri, tetapi juga kepada sesama lelaki mana pun, kawan-kawan sekerja mereka pula, atasan dan bawahan. Lantas, bagaimana engkau tahu bila itu suatu rahasia? Jawabmu, lantaran istri merekalah yang tak pernah bisa menyimpannya–rahasia itu.

“Katakanlah, apa maksudmu, Sayang?”

“Benarkah engkau belum tahu? Berjanjilah bila telah kuberi tahu kau tak menggodanya,” pintamu.

“Ya, aku janji. Hanya engkau satu-satunya perempuan yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan godaanku. Kau tak perlu menggodaku, aku sudah tergoda kecantikanmu, wahai bidadariku.”

Baca juga: Utang Darah Manusia Harimau – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Juli 2018)

“Ketahuilah, dan perhatikanlah. Betapa istri-istri, perempuan-perempuan di sini, genit, ganjen, dan jalang bertingkah polah memburu perhatian tidak saja pada lelaki, tetapi juga pada perempuan. Itu lantaran dia tak mendapatkan apa yang dibutuhkan di rumah.”

Sekonyong-konyong aku ngakak. Meski aku tak menganggapmu bodoh. Menurutku, itu simpulanmu yang terburu nafsu. Aku sempat menimbang itu bersumber pada kebencianmu pada sesama kaum hawa. Timbangan yang sungguh sejenak mengabaikan butiran permata indah di hatimu, pancaran kecantikanmu yang sebenarnya betapa engkau benar-benar tak memiliki kebencian terhadap segala ciptaan Tuhan, apalagi pada manusia khalifah di bumi ini. Khalifah tak pernah dipilah yang impoten ataukah tidak, terlebih untuk dijadikan dasar kebenciannya.

Advertisements