“Aku di sini, Bu!”

Aku terperanjat. Rasanya jantungku mendadak berhenti berdegub. Suara itu berasal dari sebatang ilalang itu. Ya, sebatang ilalang.

“Aku anakmu, Bu!”

Kudekati ia dengan perasaan yang tak menentu. Benarkah apa yang baru saja kudengar? Kutepuk beberapa kali pipiku. Rasanya sakit, karena ini sungguhan. Aku terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Kusentuh batangnya yang pajang sampai ke permukaan daunnya dan malai bunganya yang berambut putih halus. Tak habis mengerti dengan apa yang tengah kusaksikan.

“Bagaimana bisa kau menyebutku ibu? Kau adalah ilalang. Tentu bapak dan ibumu pun adalah ilalang.”

“Bukankah semalam telah ada orang yang menebarkan benihnya secara sembarangan di bantaran ini? aku telah lahir dari percintaan mereka.”

“Tetapi mengapa kau tidak tumbuh dalam rahimku dan yang lahir adalah sebatang ilalang?”

“Kalianlah yang menyebabkan aku terlahir sebagai ilalang. Benih yang kalian tebarkan jatuh di rahim tanah dan kemudian aku tumbuh.”

Oh, Tuhan, bagaimana ini? benarkah apa yang sedang terjadi ini, batinku. Kembali kubusai malai bunganya. Kukira ia seorang perempuan yang cantik. Helai daun yang berbentuk garis barangkali adalah pita yang mengikat rambut panjang di kepalanya. Dan bunga malainya indah sekali dengan bulir rambut berwarna putih kapas.

“Siapa namamu?” tanyaku. Dan tentu saja akan tampak kebodohanku karena seharusnya bapak dan ibunyalah yang menyematkan nama untuknya.

“Panggil saja aku Lalang, Bu.”

“Lalang?”

“Iya Bu, Lalang.”

“Dan siapakah nama bapak dan ibuku?”

“Bapakmu Tasuka dan ibumu Uning.”

Aku seperti berada dalam mimpi atau dalam tak lagi dapat menyangkal kata-katanya. Ingin segera kuberitahukan semua ini pada Tasuka, akan tetapi aku tahu ia baru saja ikut melaut dan akan kembali lagi pada purnama yang akan datang.

Advertisements