Cerpen Faris Al Faisal (Medan Pos, 14 Oktober 2018)

Ibu Kota ilustrasi Istimewa.jpg
Ibu Kota ilustrasi Istimewa

SIANG hari di ibu kota panas tak terperi. Tak ada rimbunan pohon untuk berteduh, udara pengap bercampur debu dan asap. Dalam terawang asap polusi kendaraan yang tak pernah reda dalam tiap detiknya, tampak mengumpal-gumpal macam nikotin yang dihembuskan sopir-sopir bus kota yang kegerahan dalam kelelahan melawan arus transportasi online yang kian diminati. Sementara gedung-gedung tinggi yang terlihat seperti kotak-kotak kaca bersusun-susun menjulang seperti hendak menyentuh awan memantulkan panas ke angkasa yang menambah peluh wajah ibu kota.

Seorang ibu berhijab berjalan di atas trotoar menuju ke sebuah tempat rumah ibadah. Wajahnya tak menampakkan ia terganggu dengan keadaan sekitarnya. Di tangannya membawa sebuah mushaf cantik yang dikemas seperti buku diary remaja. Siang itu ia hendak salat zuhur lalu setelahnya seperti biasa setiap hari minggu memberikan kajian keagamaan yang diikuti remaja-remaja putri dari berbagai kota di sekitar ibu kota.

Sekalipun tengah berjalan, dari gerakan mulutnya terlihat komat-kamit terucap samar-samar ia sedang menghafal bacaan qurannya. Sekali-kali mushaf kecil itu dibuka barang sekejap demi memastikan hafalannya tak tertukar dengan ayat lain atau terselip dengan surat lain. Ketika akan memasuki gapura masjid dengan seketika tubuhnya seperti ada yang mendorong dengan kuat. Ibu bergaun panjang yang hampir menyentuh tanah itu hampir saja terjerembab jatuh, namun ia masih sempat menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga hanya terhuyung-huyung sebentar.

Ah, baru saja ia berdiri tegak, matanya dikagetkan seorang bocah perempuan yang terjatuh karena tabrakan yang tidak disengaja tadi. Anak kecil itu mengaduh kesakitan sambil berusaha meraih sebuah tas kecil berwarna pink yang terlempar tak jauh dari tempatnya terjatuh. Akan tetapi saat bersamaan terdengar teriakan orang-orang yang berlari mendekati tempat itu.

“Maling, maling kecil, tangkap, tangkap!”

Dengan memegang tas kecil pink itu, bocah itu mencoba bangkit kembali untuk berlari. Namun malang, baru saja langkahnya ia lajukan kakinya terperosok jeruji selokan yang berada di antara trotoar depan masjid. Kaki kirinya tak dapat dikeluarkan dari jeruji selokan itu. Sementara orang-orang yang mengejarnya tinggal belasan meter lagi.

Advertisements