Cerpen Soe Tjen Marching (Koran Tempo, 13-14 Oktober 2018)

Bisnis Keluarga ilustrasi Koran Tempo.jpg
Bisnis Keluarga ilustrasi Koran Tempo 

Sudah bukan rahasia, di zaman sekarang, supaya tetap hidup kita sering kali harus bersedia menjual apa saja untuk mendapat duit. Ada yang menjual kue, ada yang menjual mobil, yang lain menjual badan, ada juga yang menjual binatang liar yang disekap dari hutan.

Para pengusaha yang sukses dengan mulut berbusa akan berkoar di media massa bahwa kunci sukses adalah berpikir di luar kotak: lakukan hal yang berbeda!

Tapi para penjual ludah ini lupa untuk mengutamakan nurani dan etika. Yang digembar-gemborkan adalah sukses dan keuntungan. Aku bukan pengusaha yang demikian. Aku tidak mau membuat makhluk apa pun menderita. Aku tidak akan menangkap binatang yang bebas merdeka di alam, untuk dimasukkan ke dalam kandang-kandang kecil. Aku justru ingin dari bisnisku ini, semua akan lebih sejahtera dan bahagia.

Dan aku selalu berusaha jujur: yang aku jual adalah barang yang bagus dan bermutu tinggi. Aku tidak akan menjual barang rongsokan, karena aku bangga akan produksiku ini. Aku juga selalu meminta pendapat suami dan anak-anakku, walau akulah yang harus membanting tulang dan menjadi pencari nafkah dalam keluarga.

Baca juga: Memburu Sekutu Iblis – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 06-07 Oktober 2018)

Sejak suamiku diseruduk oleh mobil Colt dari depan, saat mengendarai sepeda motornya ke Sleman, aku memang harus mencari duit sendirian. Kedua tangannya hancur, padahal pekerjaan dia adalah juru tulis di sebuah perusahaan yang cukup besar di Yogya. Dia menjadi sangat pendiam dan selalu khawatir. Dari juru tulis, ia berganti profesi menjadi juru miris.

Tapi ada satu hal yang tak berubah: anunya masih berdiri tegak seperti biasa. Malah sekarang, makin aktif karena tak ada hiburan lainnya. Pagi sore siang malam, barangnya selalu siap. Spermanya membuncah ruah, dan hampir setiap tahun, aku hamil. Kontrasepsi apa pun yang aku coba, tidak mempan dan suamiku tidak doyan pakai kondom. Kita sudah mempunyai tiga anak. Yang bungsu baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu, karena kena diare dan kami tak punya duit untuk membawanya ke rumah sakit.

Kedua anakku sekarang begitu kurus, dan saling pandang dengan mata yang kelaparan. Kalau ini kubiarkan, lama-lama mereka mungkin akan saling memakan yang lain.

Advertisements