Cerpen Dody Wardy Manalu (Rakyat Sultra, 10 Oktober 2018)

Lelaki Kesepian Bercerita pada Kursi Kusam di Sudut Cafe ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Lelaki Kesepian Bercerita pada Kursi Kusam di Sudut Cafe ilustrasi Rakyat Sultra

Pernah berkunjung ke Arion Cafe? Terletak di tanah berbukit di sebelah kiri jalan menuju masjid raya di kotaku. Lokasinya berseberangan dengan kantor tempatku dulu bekerja. Halamannya luas dikelilingi pagar besi dengan lampu hias warna-warni. Datanglah ke tempat itu bila berminat mencicipi nasi goreng ditaburi daging merah atau ayam panggang. Rasanya menghentak lidah dengan aroma rawit diulek setengah halus. Bila tidak menyukai kedua menu itu, bisa hanya memesan secangkir kopi.

Datanglah saat senja berganti malam. Lampu jalan akan menyala. Pun lampu gedung-gedung di samping Cafe. Cahaya lampu tak ubah bagai segerombol kunang-kunang. Setiap Sabtu malam, aku tidak pernah absen mengunjungi Cafe itu. Bukan untuk mencicipi nasi goreng atau ayam panggang yang setiap malam ada. Aku rindu pada kursi kusam di sudut Cafe. Betah duduk di kursi itu ditemani secangkir kopi kental yang tak pernah habis aku seruput. Pengunjung lain menyebutku lelaki kesepian. Biarkan saja! Mereka tidak tahu aku berusaha menjaga kenangan bersama Kinan agar tidak hilang dirampas waktu.

“Selamat malam kenangan.”

Baca juga: Menanti Kabar Ibu – Cerpen Dody Wardy Manalu (Banjarmasin Post, 01 April 2018)

Kembali menyapa kursi kusam sembari mendaratkan pantat di atasnya. Kursi kusam akan bercerita tentang kebersamaanku dengan Kinan. Kebersamaan itu terjalin tiga tahun lalu. Aku mengenal Kinan secara tak sengaja di sebuah toko buku. Ketika itu tengah mencari novel pengarang favoritku. Mendatangi rak memajang buku-buku tebal dan menemukan novel yang aku cari di sana. Tanpa sengaja ada dua tangan memegang novel itu secara bersamaan.

Advertisements