Oleh Jein Oktaviany (Pikiran Rakyat, 07 Oktober 2018)

Perjalanan ilustrasi Fahrul Satria Nugraha - Pikiran Rakyat.jpg
Perjalanan ilustrasi Fahrul Satria Nugraha/Pikiran Rakyat

KAU hanya harus mendengar kisahku sampai selesai untuk mengakhiri bencana yang terjadi. Ini akan panjang, jadi simak baik-baik.

KAU adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan. Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang. Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang yang tak menyadari bahwa kau adalah pecundang.

Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang yang tak menyadari bahwa kau adalah pecundang yang dikatakan dalam ramalan.

Baca juga: Cerita Nenek – Cerpen Ahmad Moehdor Al-Farisi (Pikiran Rakyat, 09 September 2018)

Ramalan itu sampai kepadaku berpuluh-puluh tahun lalu. Alam memberikanku sehelai benang takdir yang berisi masa depan suram kerajaan ini. Di benang itu, aku menatap air tak mengalir di sepanjang kerajaan, sehingga rakyat harus meminum darah saudaranya sendiri.

Maka perang berlangsung terns-menerus sepanjang jarum jam berputar dan takkan ada pemenang. Suara tangis terdengar di seluruh kerajaan seperti detak jantung. Angin topan dan gempa bumi bergantian datang tiap bulan seperti datangnya darah dari kemaluan perempuan.

Aku melihat Sang Nasib tak lagi menyayangi kerajaan ini. Ia pergi jauh dan takkan kembali seperti seseorang yang mati. Sementara itu, Dharma tidak lagi menjadi panutan dan tuntunan hidup manusia.

Advertisements