Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)

Sarung Azan Simbah ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Sarung Azan Simbah ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Gerimis turun ketika Bapak menutup telepon. “Masih banyak pekerjaan,” katanya.

Semenjak jadi mandor awal tahun ini, Bapak lebih giat bekerja. Memang dia sudah tak jadi kuli lagi, tetapi tak serta-merta bisa membuat dia leyeh-leyeh. Kini, Bapak sedang mengerjakan proyek pertama. Bapak tak ingin proyek itu gagal, sehingga kepercayaan pemodal hilang.

Semenjak Bapak memandori proyek di Batam, di rumah hanya ada aku, Ibu, Simbah, dan adik lelakiku. Adik sedang di TPQ, Ibu rewang di rumah Bude Nyami yang akan mengawinkan anak perawannya lusa.

Aku melangkah ke pintu rumah dan melihat ke luar. Gerimis kini telah menjadi hujan. Itu berarti aku harus melihat kamar Simbah yang lebih rawan bocor daripada kamar lain.

Baca juga: Sukarni – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 November 2017)

Simbah berselimut tapih saat aku masuk kamar. Aku menghidupkan lampu neon di dekat pintu. Cahayanya membuat sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di sampingnya terlihat jelas. Seingatku, Simbah jarang mengganti sarung itu, kecuali saat sedang dicuci sekali sebulan. Dia sendirilah yang mencuci. Biasanya saat pagi dan petang datang, dia akan mengenakan lagi.

Aku heran, meski telah dia gunakan puluhan tahun, sarung kotak-kotak biru-putih itu tak terlihat lusuh. Barang itu seolah baru dibeli tiga bulan lalu. Aku selalu bertanya bagaimana sehelai sarung bisa setahan itu. Namun kata orang-orang, sesuatu akan terus terlihat menyenangkan jika sang pemilik merawat dengan baik. Ia cermin kepribadian sang pemilik.

Aku masih ingat, dua tahun lalu Bapak bercerita tentang Simbah dan sarungnya. Kata Bapak, sarung itu hadiah dari Kiai Hasan untuk Simbah saat jadi juara satu azan sekecamatan.

Baca juga: Dajjal di Kampung Surga – Cerpen Mazka Hauzan (Suara Merdeka, 05 Agustus 2018)

“Ini sarung pilihanku. Pakailah. Kamu sudah begitu siap jadi muazin. Suaramu akan menuntun orang-orang mendekat,” kata Kiai Hasan saat memberikan sarung itu pada Simbah.

Kiai Hasan terkenal. Bahkan orang-orang menyebut dia waliyullah. Simbah senang bukan main. Bagi dia, sarung itu tidak sekadar hadiah atas prestasinya, tetapi juga amanah dari Kiai Hasan agar terus mengumandangkan panggilan Tuhan.

Advertisements