Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)

Pete Si Kerdil ilustrasi Istimewa.jpg
Pete Si Kerdil ilustrasi Istimewa

Aku belum pernah menceritakan kisah ini kepada siapa pun sebelumnya. Tetapi meski begitu, aku tetap akan memberitahumu sekarang.

Aku adalah anak laki-laki berumur delapan tahun pada 1885. Aku menetap di sebuah kota kecil di sebelah barat bersama seorang adik bayi perempuan dan sanak saudara yang berprofesi menjalankan kestabilan jasa pengiriman lokal. Kota ini bukan kota yang terlalu buruk untuk ditinggali. Kecuali bagi seseorang.

Ia bernama Pete Si Kerdil. Bagi kami, ia adalah manusia paling tidak berguna dan berupa jelek. Pria paling keras kepala yang pernah membawa senapan yang esok harinya disebut revolver pistol 45. Ia tidak menyukai pekerjaan. Dulunya ia seorang koboy selang waktu beberapa bulan. Setelah itu, ia berjudi dengan curang dan membunuh siapa pun yang membuka rahasianya. Entah untuk bersenang-senang atau membalas dendam, ia akan membunuh semua kepala polisi daerah yang berusaha memenjarakannya. Tidak ada satu pun yang tidak takut kepada Pete Si Kerdil, bahkan ayahku sendiri.

Baca juga: Saudara Jauh – Cerpen Orhan Pamuk (Suara Merdeka, 21 Maret 2010)

Orang-orang di kota mulai menawarkan hadiah sebanyak 20.000 dollar bagi siapa saja yang bisa mengasingkan Pete Si Kerdil dari kota atau menguburnya. Jumlah uang yang sangat besar pada masa itu. Akan tetapi, ketika Pete Si Kerdil mendengar ada yang menawarkan harga atas kepalanya, ia hanya tertawa keras dan kedai minuman dan toko roti. Dia menegaskan bahwa kepalanya jauh lebih mahal. Lalu ketika orang-orang asing berdatangan untuk mendapatkan uang dollar, mereka tidak pernah kembali lagi karena Pete Si Kerdil telah mengubur mereka di pemakaman kota.

Pada suatu hari yang berangin, sebuah kereta tiba di kota kami membawa penumpang yang tidak dikenal. Aku sedang di sana memperhatikan karena aku harus memberi minum seluruh kuda penarik kereta. Pintu kereta itu terbuka dan seorang jejaka, bertubuh tinggi dan kurus kering, mengenakan jubah cokelat entah hitam dengan sebuah topi dan sebuah syal bewarna putih, melangkah keluar. Aku pernah melihat lukisan Abraham Lincoln, dan pria itu mengingatkanku padanya. Tapi tentu saja aku tahu, Abraham Lincoln tidak mengenakan pakaian seorang pendeta. Dia segera melambaikan tangan kepada kusir saat ia mendapati dirinya berada di bawah atap si pelatih kuda.

Advertisements