Cerpen Suri Kharimah Asdi (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Pertemuan Impian ilustrasi Google.jpg
Pertemuan Impian ilustrasi Google 

Kamu menghilang mening­galkan ribuan kenangan yang masih membekas di ingatan. Pergi menjauh ber­sama pilihanmu yang baru. Meninggalkanku dengan beribu alasan pula. Melu­pakan adalah caraku untuk tetap bertahan menatap masa depan. Namun seperti kata pepata, semakin berusaha untuk melupa­kan maka semakin sulit pula kita untuk melupakan.

Sudah satu tahun Umam pergi, mening­galkan segalanya tentangku. Berhenti memperjuangkanku dan memilih bersama dengan wanita lain, membuat hatiku benar-benar terpukul. Rasanya aku masih merasa bahwa ini semua mimpi. Mimpi burukku yang tidak pernah aku impikan sebelumnya. Hingga setiap saat aku harus menata hati dan terus menata hati agar aku dapat melupakannya.

Tapi, itulah cinta yang mampu membu­takan siapa saja yang merasakannya. Tak peduli sekejam apa orang menyakitinya apabila cinta masih dirasa, maka maaf pun dengan mudah diberikan. Tak ada niatku membenci Umam, sosok pemuda yang telah menghancurkan hatiku. Aku hanya berharap dia dapat sadar bahwa apa yang dilakukann­ya salah. Setiap malam aku selalu mencoba mendudukan hati agar dapat senantiasa damai. Meski terkadang hancur hanya karena teringat kenangan masa lalu bersamanya. Sesekali air mata jatuh, menandakan aku sudah tidak sanggup lagi mengenang. Sesekali aku melirik handphone-ku untuk memastikan ada pesan masuk atau tidak. Dan ternyata tidak ada.

Baca juga: Elegi di Suatu Pagi – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Sejak memutuskan untuk bangkit dari Umam, aku memang memutuskan untuk tidak pacaran dan tidak ingin dekat atau pun didekati oleh pemuda mana pun. Bukan tanpa alasan, aku hanya tidak ingin masuk ke lubang yang sama, aku hanya tidak ingin sakit hati untuk kesekian kalinya. Aku hanya ingin benar-benar menjaga hatiku sampai tiba waktunya. Aku tidak ingin berlama-la­ma menjalin hubungan seperti dahulu lagi namun akhirnya kandas.

Dan satu lagi alasan mengapa aku masih tetap sendiri. Sebab aku masih mengharap keajaban dari sang pencipta, atas segala doa-doa yang senantiasa aku pinta pada-Nya. Doa yang selalu aku taburkan dalam doa selesai adzan. Doa yang senantiasa aku taburkan di setiap sujud terakhirku. Doa yang senan­tiasa aku taburkan di setiap sujud sepertiga malamku. Sebab bagiku, cinta bukan seber­apa kuat kita merangkulnya, bukan seberapa kuat kita menggenggamnya. Namun, seber­apa banyak kita mendoakannya, dengan doa mencintai dalam diam pun menjadi nikmat. Sebab ada Allah bersama kita.

Advertisements