Cerpen Liven R (Analisa, 07 Oktober 2018)

Pengisah ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Pengisah ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

TELAH 13.149 hari aku berada di tempat ini. Lebih tepatnya selama itu jua aku berada di atas bumi ini. Jika kamu seorang ahli matematika atau seorang perhitungan dalam segala hal, tidaklah sulit bagimu untuk memperkirakan berapa usiaku saat ini. Ya… sebuah batang usia yang lumayan tinggi. Kategori dewasa adalah relatif bagi umat manusia.

Aku menyukai tempatku bermukim bersama nenek. Sebidang lahan kosong dengan sebuah rumah tua yang kutaksir berusia lebih tua dariku puluhan tahun. Atapnya saja sudah bocor! Dari tempat tinggalku di simpang perempatan Jalan Damhsyara, aku bisa dan terbiasa memandang ke segala penjuru jalan. Kanan-kiri, belakangku, hingga ke seberang sana, ke dalam ujung gang kecil di samping Jalan Tumoso itu. Tak heran, aku tahu banyak hal yang terjadi di sini. Kudengar langsung dari mulut-mulut bergincu maupun tidak, hingga yang kulihat sendiri.

Aku ingin berkisah kepadamu… dan ini adalah tentang…

***

Si Buta dan Si Pincang.

Siang yang terik. Kucoba mengibaskan rambut untuk mengusir gerah. Menunduk, dari celah rambutku, aku melihat bayang-bayang bergerak di dalam rumah kosong nan gelap di seberang jalan. Siapa di dalam? Kupicingkan mata. Oh, ada dua manusia di situ!

Baca juga: Gadis Tua dan Musuknya – Cerpen Venny Mandasari (Analisa, 24 Juni 2018)

Berjalan cepat, lelaki setengah baya keluar. Mencari-cari, dia masuk kembali. Giliran wanita muda keluar, hanya sebentar dia sudah melihat kantongan plastik yang ditinggalkannya di depan pagar. Segera diraihnya, lalu kembali ke dalam.

Aku menajamkan penglihatan. Keduanya membuka pakaian di dalam! Lalu….

Heh! Bersihkan pikiranmu! Tidak seperti yang kamu bayangkan! Ya…, ya…! Mereka hanya berganti pakaian! Aneh. Baju bagus tak hendak dipakai, justru baju koyak-koyak dikenakan!

Advertisements