Cerpen Raihanan Sabathani, SP (Republika, 07 Oktober 2018)

Mimpi dan Takdir ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Mimpi dan Takdir ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Mimpi bagi sebagian orang adalah bunga tidur yang tidak perlu dirisaukan dan diabaikan saja. Namun, tidak bagiku, justru itu jadi hal yang aneh dan tidak biasa. Bagaimana tidak? Sedari kecil aku harus dihadapi oleh kenyataan bahwa mimpi-mimpiku menjadi nyata dalam kehidupan. Mengganggu? Iya, sangat. Aku sering bertengkar dan berdebat dengan keluarga karena pendapat yang aku utarakan tidak masuk akal bagi mereka.

Pernah suatu hari aku bermimpi melewati jalan di kebun-kebun yang biasa aku lalui saat berangkat dan pulang sekolah. Lalu aku kaget karena tiba-tiba seekor ular menggigitku tanpa ampun. Keherananku tenggelam oleh rasa sakit dan takut bahwa aku akan mati sebentar lagi. Ditambah lagi Fahmi, adikku, yang biasa bersamaku entah mengapa tidak bersamaku saat itu. Ah … lalu aku terbangun dengan keringat dingin sambil ketakutan dan membuat terbangun semua orang di rumah, bapak, ibu dan adikku. Mereka bertanya mimpi apa dan aku ceritakan bagaimana kejadian yang aku alami. Hanya mimpi, begitulah kata bapak dan ibu. Namun, tidak dengan adikku, dia sedikit terpengaruh dan tidak mau melewati jalan itu untuk sekolah besok pagi.

“Ini semua gara-gara kamu, Bapak harus ngantar kalian berdua ke sekolah pake motor. Jadi telat ngantor deh Bapak. Kenapa sih harus percaya sama mimpi segala?” Kata bapak sambil bersungut-sungut.

Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)

Kan udah sering dan terbukti, Pak. Sekali ini aja percaya, Pak,” kataku memelas.

Ternyata terbukti, pada sore hari kami mendapat kabar yang menggemparkan, ada seorang anak sekolah jatuh pingsan ditemukan oleh warga di jalan yang biasa aku lalui tersebut. Setelah dianalisis penyebabnya ditemukan gigitan seperti gigitan ular. Dia dibawa ke rumah sakit dan alhamdulillah selamat.

Tuh kan, Pak. Mirip sama mimpi aku, Pak,” kataku meyakinkan Bapak.

“Bapak tetep gak percaya. Tidak mungkin hanya karena mimpi kita harus waswas. Percaya sama Allah, bukan sama mimpi, Tur. Hiduplah apa adanya, normal saja. Toh kalau kita dapat musibah itu sudah di atur dari sananya,” kata bapak lebih yakin lagi. Bapak memang keras kepala dan kekeh pendirian, sepertinya sifatku yang kekeh dengan pendapatku sendiri sepertinya menurun dari sifat Bapak.

Advertisements