Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 07 Oktober 2018)

Laki-laki yang Datang dari Surga ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Laki-laki yang Datang dari Surga ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 

SESEORANG mengetuk pintu rumah Haji Ismail tengah malam saat gerimis jatuh satu demi satu dari langit yang menghampar warna hitam pekat. Berjalan ke arah pintu, perasaan Haji Ismail waswas, khawatir seseorang akan membunuhnya. Kening Haji Ismail berkerut membentuk garis terombang-ambing melihat seorang laki-laki berpakaian kucel dengan ransel di punggungnya berdiri di depan pintu.

Dengan keberanian yang tanggung. Haji Ismail bertanya. “Siapa kamu? Ada perlu apa malam-malam datang ke rumah saya?”

“Apakah begini cara memperlakukan tamu? Tidakkah kamu mengajak saya terlebih dulu masuk ke dalam, kemudian bertanya?” Laki-laki misterius itu berkata dengan tetap menundukkan kepala sehingga Haji Ismail tak dapat melihat wajahnya, terlebih cahaya lampu memantul remang-remang.

Dipersilakannya laki-laki itu masuk ke ruang tamu oleh Haji Ismail. Jika dilihat sekilas, pastilah usia laki-laki itu terpaut jauh dari Haji Ismail. Kulit sekujur tubuhnya keriput. Langkahnya pendek-pendek bagai jantung yang melemah saat ia berjalan masuk ke dalam rumah. Haji Ismail menggenapkan dugaan bahwa laki-laki itu seorang pengemis. la tidak tahu arah pulang atau kemalaman karena meminta-minta dari satu rumah ke rumah lain sepanjang hari sehingga kemudian menemukan rumah Haji Ismail sebagai tempat bermalam. Pikir Haji Ismail sambil lalu melihat gerak-gerik laki-laki renta itu.

Baca juga: Banjir Kiriman – Cerpen Zainul Muttaqin (Kompas, 04 Februari 2018) 

“Saya bukan pengemis, saya juga tahu ke mana harus pulang. Saya ke sini karena memang harus menemuimu.” Laki-laki misterius itu berkata, agak lirih suaranya. Keterkejutan melingkar di wajah Haji Ismail, bagaimana mungkin ia bisa mendengar suara hati Haji Ismail.

“Kamu dari mana? Nama kamu siapa? Ada perlu apa menemui saya tengah malam seperti ini?” Pertanyaan Haji Ismail tidak langsung dijawab. Laki-laki aneh itu menyulut sebatang rokok. Mengisapnya berulang-ulang. Ia memandang wajah Haji Ismail terlebih dulu sebelum akhirnya membuka mulutnya.

“Saya datang dari surga.” Jawaban itu malah direspons dengan tawa terbahak-bahak oleh Haji Ismail hingga kedua bahunya berguncang-guncang. Tak berselang lama, tawa Haji Ismail yang semula terus berderai harus berhenti tiba-tiba setelah hidung lelaki berserban itu mencium aroma wewangian bertebaran di udara.

Advertisements