Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 07 Oktober 2018)

Hutan Air Mata ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Hutan Air Mata ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

KIAI Ihsan kedatangan tamu. Empatpuluh orang. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di tikar yang digelar di ruang dalam. Kiai Ihsan mengamati tamunya. Beberapa orang dia kenal, sebagian besar tamu belum ia kenal.

“Sampean ini siapa ya?” Tanya Kiai dengan suara lembut, “sepertinya saya belum banyak yang kenal.”

“Maaf, Kiai. Kami ini warga yang tinggal di kiri kanan Kali Watu,” jawab seorang tamu yang umurnya paling tua. “Kedatangan kami ini untuk mengadu, kenapa hutan jadi gundul, sungai hampir mengering, dan muara berbau sampah dan bangkai.”

“Terus mau kalian bagaimana?”

“Kami mohon Kiai menolong kami. Kami ingin hutan kembali lebat pohonnya, sungai jernih dan muara tanpa sampah.”

Baca juga: Terbongkar – Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 04 Maret 2018)

Kiai Ihsan diam sebentar. Memejamkan mata. Lalu seulas senyum tersungging di bibir. Warga pinggir sungai yang memperhatikan perubahan wajah Kiai menjadi lega.

“Sudah ketemu caranya ya Pak Kiai?”

“Sudah. Janji mau menaati semua perintah saya?”

“Mau Kiai.”

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, para pengadu itu ditambah keluarga dan kenalannya sudah berkumpul di lapangan di bawah hutan gundul. Jumlah mereka kini ribuan. Kiai Ihsan mengajak mereka membaca Al Fatihah, lalu membaca istighfar. Sambil berjalan mereka terus membaca istighfar.

Baca juga: Sungkem – Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 18 Juni 2017)

Jalan mendaki. Udara pagi lembut. Menyegarkan badan. Suara Kiai Ihsan lembut, tetapi makin lama makin parau. Kiai Ihsan, mulai menangis dan melantunkan doa di antara istighfarnya. Orang-orang ikut menangis.

Mereka menirukan doa yang dibaca Kiai Ihsan. Dan merasa amat berdosa. Air mata mereka tidak hanya menetes, tetapi mengalir deras. Hutan gundul itu basah, seperti dibasahi oleh hujan seharian. Air mata mengalir di tanah, mengalir ke bawah. Sampai akhirnya seluruh bukit bekas hutan yang semula kerontang menjadi basah kuyup. Air mata terus mengalir memasuki mata air yang semula hanya mengalirkan satu dua tetes air, kini mendadak muncul tuk umbul, mata air yang melimpah airnya.

Advertisements