Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)

Gadis Kecil Bernama Alenia ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Gadis Kecil Bernama Alenia ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

GADIS kecil itu duduk sendiri di pojokan jalan, menjuntai kaki di atas trotoar, dan badannya yang mungil itu nampak menggigil. Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, hanya anak pengemis, mungkin. Atau hanya seorang anak yang kebetulan kesasar dan kehilangan orangtuanya. Bisa saja itu terjadi. Tapi, yang pasti, tidak ada yang peduli dan merasa ingin tahu siapa gadis kecil itu, termasuk saya. Saya hanya mengamati gadis kecil itu sepanjang malam. Hanya bergeming, tidak melakukan apa-apa. Hanya mengamati. Sudah.

Sejujurnya ada rasa ingin tahu dalam diri saya. Barangkali dia butuh pertolongan atau semacamnya, barangkali dia memang kehilangan orangtua dan sudah tidak makan seharian. Mungkin dia juga kedinginan. Tapi, kemungkinan-kemungkinan itu terasa tidak masuk akal, gadis kecil itu barangkali hanya seorang gadis kecil biasa. Tidak perlu dilebih-lebihkan.

Malam hari berikutnya, saya masih melihat gadis kecil itu seorang diri di pojokan jalan yang sama. Bajunya tetap sama, posisi duduknya pun juga tetap sama. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Saya mulai merasa aneh sebab orang-orang tetap melewatinya begitu saja, kendaraan-kendaraan tetap tak ada yang mau berhenti, bahkan untuk sekadar bertanya, “Adik tinggal di mana? Adik sedang apa malam-malam begini sendirian? Orangtua adik di mana?” Tidak ada yang seperti itu. Diam-diam saya membatin, apa orang-orang sudah kehilangan rasa peduli ya? Apa waktu sedemikian berharganya, hingga sedikit waktu untuk sekadar peduli pada orang lain sudah tidak ada? Eh kok saya membatin begitu, toh saya juga tidak melakukan apa-apa.

Baca juga: Sepotong Roti Hijau – Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)

Saya menepis pikiran itu jauh-jauh. Siapa gadis kecil itu tidak akan terjawab bila hanya dipikirkan. Saya harus mendekatinya. Antara ragu dan tidak, saya mulai melangkah menuju tempat gadis kecil itu. Malam masih saja dingin, dan jalanan sudah mulai sepi. Saya melirik arloji, sudah pukul 10 lewat ternyata. Ini kebetulan. Orang-orang tidak akan berprasangka macam-macam jika saya dekati gadis kecil itu. Tidak akan ada yang mengira bahwa saya adalah keluarga gadis kecil itu, atau tak akan ada yang menganggap bahwa saya adalah penculik anak dan sengaja memperkerjakanya demi kepentingan perut saya. Tidak akan. Malam sudah sepi, kebanyakan orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.

Advertisements