Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Elegi di Suatu Pagi ilustrasi Google
Elegi di Suatu Pagi ilustrasi Google 

 Minggu pagi yang cerah. Matahari men­yapa dari sudut jendela. Sinarnya jatuh ke wajahku dengan hangat. Aku yang sepagi ini sudah sibuk di dapur menyiapkan sesua­tu untuk dibawa ke rumah Ayla. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Sementara semangatku semakin menggelora untuk bertemu dia.

Setelah menimbang cukup lama tadi malam, aku memutuskan untuk membuat nasi goreng paprika kesukaan Ayla. Kurasa setelah sibuk bekerja, Ayla akan senang mendapati kekasihnya datang ke rumah hanya untuk membawakannya sepiring nasi goreng. Hubunganku dengan Ayla memang tidak sedang baik-baik saja. Ada beberapa komplain yang ditujukan Ayla ke­padaku. Katanya aku terlalu sibuk bekerja, hingga ia merasa terabaikan.

Baca juga: Lelaki yang Menderita bila Dipuji – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 07 Oktober 2018)

Tapi tentu saja, untuk membalas segala kekurangan yang diprotes Ayla, aku mencoba untuk membuatnya sedikit bahagia hari ini. Kebetulan weekend ini sedang tidak ada projek, jadi aku bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis manis itu. Aku kembali tenggelam dalam kesibukanku memasak.

Dulu saat awal pacaran, Ayla selalu memujiku dengan kalimat-kalimat yang begitu aku suka. Dia bilang bahwa aku adalah satu-satunya lelaki yang jago masak sepanjang yang dia kenal. Bahagia menyelimuti hatiku, sebuah pujian manis dari kekasihku. Aku pun turut senang, jika lidah Ayla lah yang menjadi tester pertama masakanku.

Baca juga: Mimpi dan Takdir – Cerpen Raihanan Sabathani, SP (Republika, 07 Oktober 2018

Aku meletakkan nasi goreng dengan banyak potongan paprika dan sosis ke dalam wadah berbentuk segi empat. Tempat bekal itu berwarna kuning cerah, sengaja aku belikan khusus untuk Ayla be­berapa waktu lalu. Agar ketika aku sempat memasak untuknya, aku tidak repot lagi mencari wadah untuk mengantarnya.

Ayla juga jago memasak. Kami sering bertukar masakan dan juga resep-resep terbaru. Ayla adalah sosok perempuan yang mandiri. Meski tinggal dengan or­angtuanya, dia tetap bekerja. Padahal aku tahu sekali, tanpa bekerja pun hidup Ayla akan tercukupi. Tapi itulah Ayla, dia selalu bisa membuat aku jatuh hati pada setiap apa yang dilakukannya.

Advertisements