Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 07 Oktober 2018)

Bidadari yang Tersesat di Neraka ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Bidadari yang Tersesat di Neraka ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

(Bagian 1)

I

SUARAMU terdengar begitu lirih, lembut. Bahkan lebih halus daripada desau angin malam. Lebih mulus daripada geletar bulu kemoceng yang tertiup bibir tipismu itu saat menggugurkan debu dari rak bukumu, saban kali kau bertutur kata apa pun. Tidak saja kepadaku—lelaki yang kemudian menjadi pujaanmu. Tetapi juga kepada setiap pria di kota ini, memang kau lebih memilih bergaul dengan pria ketimbang sesama wanita.

Meski demikian, siapa pun, bukan saja aku—kekasihmu—tentulah, sanggup terkesiap dan bahkan bisa menghentikan jantung saat itu, ketika kudengar telah kau katakan; bahwa seluruh lelaki di kota ini telah mengalami impotensi.

Masih dengan kelembutan nada suaramu, saat kau ucapkan pengetahuanmu itu, ketika engkau mengajakku berpakansi dari pabrik ke pabrik di tepi pantai yang rusak itu, di jalanan yang tak keruan, berminyak, dan berdebu itu. Engkau mengenalkanku pada raksasa-raksasa buta yang berdentam, mengangkang, menyembur-nyemburkan racunnya ke segala penjuru kota, bahkan angkasa, langit, bumi dilaburinya dengan limbah segala limbah.

Baca juga: Perihal Orang Miskin yang Bahagia – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

“Aku lelaki, Sayang. Bagaimana kau dengan tenangnya katakan itu? Dan engkau perempuan kekasihku, pengetahuanmu bisakah meyakinkan aku?” tanyaku selepas jantungku kembali kurasakan degubnya bersicepat, dalam pakansi bermotor kami yang merambat di sekeliling kota.

“Justru karena aku perempuan dan menjadi lebih tahu bagaimana rahasia-rahasia lelaki yang telah mafhum di kalangan kaum Adam itu, terus dirahasiakan dan dirahasiakan terus oleh mereka,” tedasmu, sekaligus menandaskan peluk eratmu di pinggangku.

Suaramu tetap begitu terdengar lembutnya, meski dilatari kendaraan-kendaraan berat, truk-truk tangki, derum mesin pabrik, raung sirene, teriakan mesin-mesin yang beradu besi dan baja, serta mobil-mobil yang menggilas aspal dengan kerasnya sembari terbatuk-batuk. Namun, nada dan tanda yang meluncur dari bibirmu bahwa; semua lelaki di kota ini mengidap impotensi, terdengar lebih keras daripada segala gemuruh itu di telingaku. Bahkan gelegarnya menggema sampai rongga dada dan anak gemanya memantul, menyusup pori-pori. Mula-mula kulitku merinding. Otakku mengeras lantaran sulit untuk mengerti, apalagi memercayai.

Advertisements