Cerpen Faruqi Umar (Radar Banyuwangi, 07 Oktober 2018)

Berkabung ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Berkabung ilustrasi Radar Banyuwangi 

Semua orang maklum. Sejak ditinggal mati suaminya dua tahun silam. Perempuan itu menjadi pendiam. Dia juga jarang keluar rumah dan main ke rumah para tetangganya.

Di beranda rumah yang tampak selalu sepi, perempuan itu terlihat murung. Kadang ia menangis, tapi kemudian tertawa. Banyak orang mengira perempuan itu gila. Sehingga, tidak ada seorang pun yang berani main ke rumahnya.

Dan sore ini, Sak Du dan Lik Da sedang mengintai perempuan itu dari balik sebuah pagar rumah. Mereka menganggap perempuan itu tidak gila, melaikan masih larut dalam perasaan berkabung. Mereka juga sedang merencanakan sesuatu.

“Kau sudah siap kan, Lik?” tanya Sak Du.

Baca juga: Kalifah Malam – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 4 Maret 2012)

“Apakah kau yakin operasi ini akan berhasil?” balas Lik Da lirih, sedikit tercekat.

“Percayalah padaku,” tandas Sak Du. “Dini hari nanti kita beraksi, Lik, saat semua warga sudah tidur dan para peronda sudah pulang ke rumah mereka masing-masing,” lanjutnya.

Lik Da mengangguk, sedikit ragu. Matahari yang sedari tadi merangkak pelan, kini sudah terjungkal di ceruk barat. Angin berembus lirih. Dan malam seperti terlempar dari angkasa dengan jubah hitamnya.

***

Sehari sebelum pengintaian itu, kepala Sak Du puyeng. Ia tak dapat pinjaman uang. Istrinya yang hamil tua terbaring lemas di rumah sakit dan akan melahirkan anaknya yang pertama.

“Istri bapak harus dioperasi,” kata seorang dokter. Pernyataan itu seperti menendang kepala Sak Du.

Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)

“Apakah tidak ada jalan lain selain operasi, Dok?”

“Ada. Tapi bahaya buat anak dan istri bapak.”

Seketika itu Sak Du ingin sekali menghantamkan kepalanya ke tembok. Ia seperti sudah tidak kuat menahan beban yang dialami. Gajinya sebagai kuli bangunan tidak akan cukup untuk biaya operasi istrinya.

Sak Du berpikir untuk meminjam uang pada tetangganya. Tapi, masihkah ada orang yang percaya memberi pinjaman? Sungguh berat hidup di perantauan. “Tapi bagaimana pun aku harus mendapatkan uang. Bagaimana pun caranya,” ia membatin.

Advertisements