Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 06-07 Oktober 2018)

Memburu Sekutu Iblis ilustrasi Koran Tempo
Memburu Sekutu Iblis ilustrasi Koran Tempo 

Seorang lelaki melompati tubuh kereta api saat kendaraan itu melintas dengan amat cepat, tapi tak ada sepercik darah. Tak ada sepotongkepala atau bola mata manusia atau usus atau liver atau lambung atau jantung atau organ vital apa pun yang tergeletak di sepanjang rel, sehingga malam itu situasi di pinggiran kota tetaplah sunyi sebagaimana biasa.

Saya mendengar kabar seseorang telah kabur dari penjara sekitar tiga hari lalu, dan sampai detik ini, polisi belum mendapatkan petunjuk apa pun yang dapat mengantar mereka untuk sekali lagi meringkus bajingan laknat itu.

Dahulu, bertahun-tahun silam, laki-laki pemerkosa yang di suatu malam tertangkap mata seorang pemulung sedang melompat ke tubuh kereta yang melintas namun justru tak mati, membuat hidup seorang perempuan rusak.

Perempuan itu telah lama membangun hidupnya mulai dari nol; tanpa orang tua dan bahkan tanpa orang-orang yang sedia melindunginya. Tubuh gadis itu berbau tak sedap dan orang-orang pada masa itu kuat menduga betapa kelak gadis itu tidak akan pernah tumbuh jadi gadis yang cantik dan disukai banyak lelaki. Setiap hari, dia pergi ke mana pun membawa buku. Dia gemar membaca.

Baca juga: Perempuan Pengembara yang Menunggangi Seekor Lembu – Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 29-30 September 2018)

Sayangnya, waktu kerap berkhianat. Waktu membawa rahasia-rahasia Tuhan yang paling aneh. Suatu ketika orang-orang di lingkungan sekitar rumah yatim piatu malang itu terheran-heran melihat perempuan yang telah menjadi perawan matang, yang datang ke kampung mereka untuk bersilaturahmi. Ternyata dia anak yang dulu kerap dipandang sebelah mata.

“Saya bisa begini bukan semata karena usaha saya sendiri. Tuhan dan orang-orang lain juga ikut berperan,” begitulah si gadis selalu merendah.

Padahal prestasinya yang menonjol di sekolahlah yang membuat hati pengusaha tua kaya raya yang tak punya istri atau anak bertekad mengadopsinya dan memberinya pendidikan setinggi mungkin. Sejak hari itu kehidupannya mulai terjamin. Di usia tujuh belas, gadis yang dulunya kecil, gemuk, hitam, dan bau, kini berubah menjadi perawan yang menawan. Pola hidup sehat diterapkan kepadanya sehingga kini dia benar-benar berubah dari sisi penampilan.

Advertisements