Cerpen Luhur Satya Pambudi (Rakyat Sultra, 01 Oktober 2018)

Membaca Jalan Pikiran Ibu ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Membaca Jalan Pikiran Ibu ilustrasi Rakyat Sultra

Sempat tak kupahami, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, mengapa ibuku tampak susah memejamkan matanya malam itu. Sesekali aku mendekatinya dan menanyakan apakah tidak sebaiknya Ibu beristirahat karena malam telah sangat larut. Seraya tetap berbaring di atas dipan, beliau sedikit menggelengkan kepala belaka tanpa kata. Aku pun kembali ke kamarku mencoba terlelap tapi tak bisa begitu saja kendati suasana tengah begitu senyap. Waktu itu kondisi kesehatan Ibu di rumah cenderung menurun, hingga dua hari kemudian kami membawanya kembali ke rumah sakit. Kami melakukan dengan sedikit terpaksa karena beliau sebenarnya tak ingin pergi dari tempat tinggalnya. Dan sama sekali tak kuduga bahwa sekian hari sehabis malam itu, Ibu justru menutup mata selamanya.

Sekitar enam tahun kemudian barulah kutemukan jawaban kala kubaca novel karya Jostein Gaarder—yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—yang berjudul Orange Girl atau Gadis Jeruk.

Ketika kepala penuh dengan pikiran berat, orang hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata, atau diam. Ibu hanya diam.

Baca juga: Seusai Perang Besar – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Bali Post, 15 Oktober 2017)

Kurenungkan kalimat yang dituliskan Gaarder dan menghubungkannya dengan peristiwa yang tempo hari kualami. Justru sebuah pertanyaan baru pun mengemuka dari diriku. Apa yang sebenarnya paling dikhawatirkan Ibu dan menjadi beban pikiran beliau sebelum wafatnya? Kucoba membaca jalan pikiran beliau dengan menyusun sejumlah asumsi dalam benakku. Memiliki dua anak yang masih lajang pada usia yang sudah layak menikah barangkali menjadikan perasaan Ibu tidak nyaman. Aku tahu, Ibu mencemaskanku sebagai anak bungsu dan lelaki satu-satunya. Setelah memutuskan berhenti kuliah, aku hanya bekerja di tempat usaha saudaraku yang masih labil kondisinya. Artinya, masih perlu perjuangan panjang menuju fase kemapanan. Apalagi sehabis gempa besar melanda kota kami, tempatku bekerja mengalami banyak kerugian pula. Kami kehilangan sejumlah konsumen yang mesti menata kembali kehidupan yang terkoyak akibat gempa. Kakak iparku sebagai pemimpin tempat usaha kami berinovasi dengan menjual roti dan jagung bakar. Ada pemasukan yang lumayan selagi bidang usaha utama tempatku bekerja kian hari semakin sepi. Aku justru memiliki keasyikan tersendiri turut serta membantu bisnis kuliner kecil-kecilan kami. Selain itu mulai kutekuni sesuatu yang bisa menjadi wahana baru bagiku menjemput rezeki Ilahi, namanya menulis cerita pendek. Melihat hal-hal yang sudah kulakukan, tampaknya Ibu tak terlampau meragukan masa depanku lagi.

Advertisements