Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 30 September 2018)

Teh Kenangan ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Teh Kenangan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

EMBUN leleh di kaca jendela. Tangan mungil Rina menguak daun jendela itu pelan.  Bunyi derak lirih membangkitkan cerita-cerita silam. Angin pagi silir pelan mengeriap ke telapak tangan. Matahari menyembul di pinggang sebuah apartemen.

Burung-burung kecil di dahan pohon angsana tiru lalu lintas kendaraan. Berkaca langit, mencipta alit, mencalit wajah kota dengan kepak sayap yang gesit.

Satu seruputan teh hangat menyisakan kenangan di bibir. Rina tersenyum, balik kubalas tak kalah lembut, sebelum akhirnya ia kembali ke dapur, karena urusan masak harus segera selesai, sebelum mengantar anak-anak ke sekolah.

Baca juga: Lelaki Herbivora – Cerpen A. Warits Rovi (Jawa Pos, 02 September 2018)

Secangkir teh di hadapanku mengepulkan asap tipis, suntik wangi yang tajam ke cuping hidung, mengingatkanku pada sepuluh tahun silam, tangan mungil Rina memetik daun teh di lereng bukit Siantar, dimasukkan ke dalam tas plastik, kami cekikikan pulang lewati jalan berkerikil, yang berkelok dan menurun di antara jeram tebing, menjemurnya seharian, lalu jelang senja Rina merebusnya menjadi teh siap saji.

Di beranda rumah Rina, ketika senja menyambangi juntaian rambut, kami sama-sama menikmati teh itu dengan aneka keceriaan. Menurut Rina, daun teh yang direbus sebelum benar-benar kering, diyakini bisa menguatkan rasa cinta pada sebuah pasangan.

Aku mengangguk pada setiap cerita Rina, sembari tekun meneguk teh itu karena rasanya memang sangat nikmat. Sepulang dari rumah Rina, aku benar-benar ketagihan pada rasa teh itu, tak peduli apakah ia penguat rasa cinta atau tidak. Karena sejak tahu dunia, aku tak percaya kepada mitos.

Baca juga: Celurit Lelaki Idiot – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 08 Juli 2018)

Sampai kami jadi suami-istri, teh menjadi minuman favorit kami berdua. Satu hal yang membuatku takjub, setiap kali aku minum teh, wajah Rina akan terbayang, seolah bangkit dari teh itu dan menguatkan kenangan tentang perjalanan cinta kami dari sejak awal.

“Sudah pukul tujuh, Mas!” Rina mengingatkanku untuk segera berangkat ke kantor. Lamunan tentang masa lalu buyar dihantam waktu. Tegukan teh terakhir menyelami tenggorokan, menghapus wajah beberapa wanita lain yang pernah singgah di hatiku.

***

Advertisements