Cerpen Des Alwi (Kompas, 30 September 2018)

Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat ilustrasi Susilo Budi Purwanto - Kompas.jpg
Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat ilustrasi Susilo Budi Purwanto/Kompas 

Tidak mudah membedakan rintihan kesakitan dan erangan kematian. Apalagi dalam ruang gawat darurat yang dipenuhi pasien pasien kritis. Mendengarkan rintihan sambil menahan sakit tentu lebih susah. Terlebih lagi jika badan tidak bisa digerakkan. Karena itu aku hanya memutar-mutar bola mata mencoba melihat siapa saja yang merintih memanggil ibu, emak atau mamanya.

Upayaku untuk memutar kepala dan mencoba mendapatkan sudut pandang lebih baik tidak berhasil, karena ikatan yang membelit dadaku menyebabkan pergerakan sangat terbatas. Bayang-bayang dokter, yang menyarankan agar aku selalu tersenyum menghadapi tekanan di dada, rasanya tidak terlalu banyak menolong. Tapi saat tersenyum, ada rasa nyaman menyeruak ke rongga dada, yang membuat aku bisa membuka mata.

“Bagus, senyuman pertama yang terpenting,” ujar dokter yang terus menggerakkan stetoskop di seputaran dadaku. “Sekarang tarik napas yang dalam,” tambahnya.

Dengan pengerahan napas perlahan dari perut ke dada terus keluar melalui hidung, aku mencoba menjernihkan pikiran sambil membuka mata, melihat berkeliling. Ternyata brankarku, tempat tidur beroda, terletak persis di pintu masuk, berdekatan dengan seorang ibu yang tiap sebentar merintih. Di kiriku seorang bapak tua dengan bantuan pernapasan kelihatan sedang berjuang menghirup oksigen. Seorang perawat tiba-tiba memindahkan bapak tua tersebut, tapi hanya satu dipan bedanya dari aku.

Baca juga: Mardi – Cerpen Des Alwi (Kompas, 28 Februari 2016)

“Tidak banyak pilihan tempat di ruang gawat darurat,” dokter yang memeriksa denyut jantungku berkomentar seolah tahu persis apa yang kupikirkan. Aku hanya bisa tersenyum. Upaya mengumpulkan kata rasanya sangat sulit. Setiap tarikan napas untuk melafazkan satu kata seperti memerlukan ribuan kekuatan yang sulit didapatkan.

“Oke, saya sudah selesai, tidak ada yang mengkhawatirkan, hanya kecapekan dan butuh istirahat. Tapi harus tersenyum terus supaya tekanan terhadap dada berkurang,” ujar dokter yang terus meninggalkan brankarku dan memeriksa si ibu yang masih merintih kesakitan.

Dari wajahnya kelihatannya ibu tersebut setidaknya sudah berusia sekitar 70-an. Dalam sakit dan sendirian, ibu tampaknya sosok terdekat yang otomatis kita ingat untuk dimintai tolong. Mungkin itu yang menyebabkan dia terus merintih memanggil ibunya.

Advertisements