Cerpen Risda Nur Widia (Tribun Jabar, 30 September 2018)

Peluit Perdamaian ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Peluit Perdamaian ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 

SESOSOK orang gila secara tiba-tiba mendatangiku ketika menunggu traffic light di perempatan jalan. Waktu itu aku sedang dalam perjalanan menuju lapangan futsal untuk memimpin pertandingan final dua kesebelasan sepak bola—yang sangat terkenal memiliki persaingan sengit sejak dahulu. Dua kesebelasan itu terkenal tak bisa bertanding dengan tenang dan baik-baik saja seperti pertemuan dua tim pada umumnya. Pertemuan dua tim itu selalu berakhir ricuh dengan bentrokan— entah dari kubu pemain atau pendukungnya. Dan karena semua sejarah kurang menyenangkon pada dua kesebelasan, saat dihampiri orang gila pagi itu, mendadak membuatku merasa ada hal janggal yang akan terjadi nanti.

Sekilas aku memandang sosok orang gila itu. Dari tampangnya yang gelap—karena tak pernah mandi—dan rambutnya yang awut-awutan, aku langsung bisa mengenalinya. Ia orang gila yang biasa keluyuran di Pasar Beringharjo. Beberapa kali aku pernah bertemu dengannya ketika singgah di pasar induk kota tersebut. Karena selain keluyuran di sana, aku sering juga melihatnya malas-malasan di area Maliobaro. Biasanya ia sekadar melamun atau deleming tidak jelas di pinggir jalan. Namun—sejauh aku mengetahui orang gila itu—sosoknya tidak pernah sekali pun mencelakakan orang lain. Ia tampak tenang dan baik. Hanya saja pagi itu, tanpa alasan yang jelas—dan tak berusaha melukai siapa pun—ia mendekat. Lalu ia menatap ke arahku. Dari pandangannya aku melihat ia sedang menimbang sesuatu. Sampai kemudian ia memberiku sebuah peluit.

Baca juga: Bocah yang Ingin Melihat Neraka – Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)

Setelah memberikan peluit itu, tak lama kemudian ia pun—seperti menyampaikan wahyu—berkata kepadaku. “Damaikan orang-orang di kota ini dengan peluit.”

Setelah memberikan peluit berwama kuning kusam itu, ia pergi. Orang gila itu berjalan sempoyongan menyisir jalan tembusan Malioboro yang padat. Dan selepas kepergiannya, aku menjadi bingung. Aku merasa tak mengerti dengan maksudnya untuk menggunakan peluit itu untuk “mendamaikan orang-orang kota”. Aku malah sempat bertanya di dalam hati: Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang kota hingga harus didamaikan? Karena penduduk kota kini baik-baik saja. Tak ada sesuatu yang mengancam baik dari teror maupun perampok. Pikiranku terus mengawang ke berbagai hal. Sampai aku sadari kebingungan di kepala telah membuatku lengah dan tak menyadari traffic light berganti warna hijau. Aku kembali memacu motorku dan menyisihkan segala pikiran di kepala.

***

Advertisements