Cerpen S. Satya Darma (Analisa, 30 September 2018)

Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

DENGAN hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek, Bono, lelaki 25 tahun itu tiduran sambil membaca buku. Dia membaca di atas dipan berkasur tipis di rumah bedeng yang sempit. Sebuah rumah berdinding setengah bata yang disediakan Kepala Desa Sidodadi untuknya sebagai guru mengaji anak-anak.

Rumah bedeng itu terletak di satu gang kecil persis di belakang Musholla Nurul Huda. Sebuah rumah hanya punya satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Tak ada dapur, tak ada ruang tamu. Di satu-satunya kamar itulah Bono tidur, makan dan menjalankan semua aktivitasnya.

Beralaskan bantal yang tak lagi empuk, Bono terus membaca. Pintu rumah dia biarkan sedikit terbuka sedang tirai jendela dia sibakkan, sehingga angin bebas menerobos masuk ke dalam rumah. Dia biarkan angin senja dari desa di bawah kaki Bukit Barisan itu menerobos masuk dan menerpa tubuhnya. Sesekali lembaran-lembaran buku yang kertasnya sudah agak menguning itu terlipat karena tertiup angin. Bono tak merasa terganggu.

Baca juga: Ros – Cerpen S. Satya Dharma (Analisa, 28 Januari 2018)

Di tangannya tergenggam erat buku roman karya Buya Hamka “Merantau ke Deli”. Buku itu baru kemarin dipinjamkan Sudung kepadanya. Bukan karena Bono ingin tau isinya, tapi karena dia kebetulan melihat di sampul dalam buku itu ada tulisan tangan Sudung. Bunyinya; “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.”

“Buku apa ini? Boleh kulihat?” Tanya Bono pada Sudung.

“Bawa saja. Nanti kau bacalah,” jawab Sudung.

“Bukan itu. Kenapa kau tulis kata-kata ini di sini?”

“Oh, itu. Untuk mengingatkan saja. Tak apa kupinjamkan. Kau bawalah pulang. Kau bacalah. Siapa tau ada gunanya,” kata Sudung.

Baca juga: Pion Catur – Cerpen Fachru Rozi (Analisa, 23 September 2018)

Sudung sengaja meminjamkan buku itu karena capek ditanyai Bono terus. Dia pikir, dari pada Bono terus menerus bertanya, baiklah dia pinjamkan saja buku-buku koleksinya agar Bono mau membacanya. “Merantau ke Deli” adalah buku kelima yang dipinjamkannya pada Bono.

Rupanya sejak pertama kali dipinjamin Sudung Roman “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli, Bono ketagihan. Bukan karena dia memang suka membaca, tapi semata-mata untuk mengusir kesepiannya. Selain mengajar ngaji sehabis salat Ashar dan Maghrib, memang banyak waktu Bono yang tersisa. Tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya. Sebab itulah dia selalu pergi ke rumah Sudung dan meminjam buku-bukunya.

Advertisements