Cerpen Jihan Nabila Yusmi (Radar Banyuwangi, 30 September 2018)

Lima Renjana ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Lima Renjana ilustrasi Radar Banyuwangi

Saat ini adalah hari yang cerah dan sejuk di bulan April, dan jarum jam menunjuk angka lima belas.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Sudah siap?”

Hening. Tak ada suara yang terdengar kecuali deru percakapan dalam hati dan juga napas angin yang berbisik lembut. Derai-derai cemara begitu harmonis dengan birunya kanvas Tuhan. Bukit Telapak terlukis sangat hijau dan rindang. Hari yang menyenangkan.

“Siap atau tidak aku datang,” senyum manisku mengembang sempurna. Kaki panjangku mulai berlari-lari kecil. Celingukan menerobos beberapa ilalang dan menginjak rerantingan kering yang gugur. Berharap menemukan mereka dengan waktu singkat.

Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, hingga satu setengah jam.

Baca juga: Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik – Cerpen Eko Setyawan (Radar Banyuwangi, 16 September 2018)

Gila! Apa mereka meninggalkanku sendirian di sini? Yang benar saja. Aku sudah lelah mencari dan tenggorokanku sudah kering kerontang. Hari semakin sore, sejak tadi aku berteriak memanggil nama mereka tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Ke mana mereka?

“Pollu, apa kau baik-baik saja?” suara Panjolah yang pertama kali kudengar. Mataku masih terasa buram dan tubuhku terasa lemas tak berdaya. Ah pelipisku sakit sekali. Panjo, Ateng, Ocin, dan Cilo mengerubungiku yang terkulai di ranjang.

“Kalian sedang apa?” alisku bertaut tak mengerti. Cilo hanya mendengus pelan mendengar pertanyaanku, sementara beberapa yang lain menepuk jidat.

“Kau masih sama saja. Ini adalah yang keenam kalinya kau pingsan dalam 2 minggu terakhir. Dan setiap kali kau bangun, ‘sedang apa kalian?’ Tidak bisakah kau cukup hafal apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini?” Cilo tampak sedikit jenuh.

Baca juga: Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia – Cerpen Zyadah (Radar Banyuwangi, 09 September 2018)

“Kau harus segera pergi ke dokter. Ini sudah tidak beres, Pollu,” Ateng memandangku dengan matanya yang hitam dan tajam. Mimiknya tak lagi keras seperti biasanya. Kali ini berbeda. Miris.

Langit menjadi petang, dan burung hantu kembali bersua.

Mereka sudah pulang sejak senja, tapi kata-kata mereka masih belum beranjak. Apa aku sakit?Aku terus bertanya pada sosok diriku di cermin. Tak menemukan jawaban, aku kesal dan membanting kasar tubuhku ke ranjang. Ah, bodohnya mau menyakiti diri sendiri, untung saja ranjangku empuk. Aku menggerutu dalam hati. Kuangkat kedua tanganku, kuperhatikan lekat dengan latar langit kamar berwarna putih gading. Lalu, aku menemukan suatu kejanggalan.

Advertisements