Cerpen Mufti Wibowo (Media Indonesia, 30 September 2018)

Lelucon Eyang Masnawi ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Lelucon Eyang Masnawi ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

EYANG Masnawi tinggal di sebuah kampung di kaki Bukit Patrawisa. Setiap setelah subuh, dia pergi ke ladangnya, membawa serta pacul dan sabit di pundak dan tangannya. Tak lupa caping bambu yang menutupi rambut putih di kepalanya. Ia baru akan pulang saat matahari berada tepat di atas kepala. Saat makan siangnya siap.

Sore hari, dia menemani sang istri membuat sapu lidi. Sapu lidi itu dibuat dari tulang daun kelapa yang ditanam Eyang Masnawi di kebun belakang rumahnya. Pohon-pohon kelapa itu ditaman mengelilingi kebun. Sedangkan, ruas antarpohon kelapa ialah batang-batang singkong yang ditanam merapat membentuk pagar hidup dengan daun-daun muda yang sedap dimasak. Di tengah kebun itu, tumbuh tanaman yang biasa dijadikan bumbu masak seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan kencur.

Menjelang malam, Eyang Masnawi disibukkan anak-anak yang ingin belajar mengaji. Eyang Masnawi dan istrinya memang tidak memiliki anak, mereka adalah anak-anak Patrawisa. Mereka tinggal berdua di rumah kayu yang halaman depannya tumbuh rindang sepasang pohon mangga dan rambutan. Setiap pagi dan sore, rumah mereka begitu semarak karena kicauan burung yang bersarang di kedua pohon itu. Saat musim buah panen, anak-anak yang mengaji di tempat Eyang Masnawi bebas memetik dan memakan buah-buah itu.

***

Baca juga: Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu – Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 23 September 2018)

Sore itu, Madha datang ke rumah Eyang Masnawi. Dari jauh, dia sudah melihat wajah guru mengajinya bersama sang istri yang sedang memisahan daun kelapa dari tulangnya di selasar rumah yang cukup menampung belasan santri kalongnya. Mereka duduk di lincak bambu ungu, wulung. Buru-buru, Madha mendekat dan mencium tangan Eyang Masnawi. Madha memperkenalkan diri. Berbinar-binarlah mata Eyang Masnawi membenarkan ingatannya tentang tamunya ketika masih kanak-kanak.

“Tapi, itu sepuluh atau belasan tahun lalu.”

“Masa lalu memang lucu ya, Eyang?”

“Begitulah. Masa lalu yang paling nyata pun hanya akan menjadi lelucon hari ini. Jadi, siapa yang dulu suka sembunyikan sandal?”

“Jadi, Eyang tahu kalau saya yang suka menyembunyikan sandal teman-teman? Karena paling kecil, saya selalu dapat giliran terakhir mengaji. Kalau giliran saya, mereka ogah menunggu. Padahal jalan pulang kan gelap. Belum lagi cerita hantu di pohon sukun di dekat mata air itu.”

Advertisements