Cerpen Fahmi Abdillah (Suara Merdeka, 30 September 2018)

Ibu, Ayah di Mana ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Ibu, Ayah di Mana ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Ibu selalu meninggalkan kami dan menyendiri di kamar ketika kenangan tentang Ayah meluap dalam pikirannya. Bila itu terjadi, kami tak akan mampu berkomunikasi dengan baik. Kami, anak dan menantunya, harus menunggu sampai Ibu bersedia keluar kamar dengan mata sembap dan senyum terpaksa.

Dulu, sebelum bisa menerima perilaku Ibu itu, kami akan merayu dan menghibur Ibu. Namun kami sadar, ajakan macam apa pun tak akan ia terima. Bahkan celoteh anakku yang berusia dua tahun pun tak mampu mengajak dia beranjak dari kasur.

Ibu bisa kapan saja berperilaku begitu. Ibu pasti menyendiri dalam kamar ketika kami sekeluarga menggelar hajatan untuk berkirim doa bagi Ayah. Baik tiga hari, seminggu, empat puluh hari, maupun seratus hari Ayah meninggal. Pun hari ini, Ibu tak mau keluar kamar walau tahu kami sekeluarga sibuk memperingati seribu hari Ayah meninggal.

Setelah semua orang, selain anggota keluarga, meninggalkan rumah, baru Ibu mau keluar kamar.

“Di mana Arai, Nak?”

Ibu duduk meluruskan kaki. Kupijat kaki Ibu. Kulihat kaki Ibu mengecil. Ibu makin kurus.

“Di kamar, Bu. Dia kelelahan. Ibu melewatkan kejadian lucu ketika dia memaksa ikut melayani tamu yang mengaji. Ia meniruku menuangkan teh ke gelas para tamu. Ibu bisa dengar tangis Arai yang kepanasan karena teh hangat tumpah ke bajunya?”

“Iya, Ibu dengar. Arai tak terluka kan, Nak?”

“Tidak, Bu. Ia hanya kaget. Lebih lucu lagi, ia bilang maaf berkali-ulang.”

“Aku senang. Hati anakmu begitu lembut. Anak berusia dua tahun sudah mengerti rasa bersalah. Sayang….”

“Ibu, jangan lagi masuk kamar. Aku butuh Ibu sekarang.”

Aku merebahkan kepala ke pangkuan Ibu. Ibu duduk bersandar ke lemari kayu di ruang tengah. Lemari itu sekaligus berfungsi sebagai penyekat agar para tamu tak bisa langsung melihat kegiatan di dapur keluarga kami.

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa sembuh atas kehilangan ayahmu,” ujar Ibu sambil mengusap kepalaku.

Advertisements