Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 30 September 2018)

Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SAAT kuceritakan kepada ayah, bahwa sepulang sekolah tadi aku menemukan bangkai anjing di pinggir jalan, dia langsung muntah dan menghujaniku dengan sumpah serapah. Awalnya, aku menerka ceritaku itu terlalu menjijikkan untuk diucapkan di meja makan, terlebih ketika ayah sedang mengunyah makanannya. Dan untuk membuktikan tebakanku itu, di lain waktu aku mengatakan jika tadi aku menjumpai seekor bangkai ayam di pinggir jalan.

“Mungkin dia terlindas oleh sepeda motor yang melintas,” tambahku.

Ajaibnya, ayahku tak bereaksi apa-apa, pun ketika aku mengisahkan bangkai-bangkai lainnya, tentu saja selain anjing.

Aku mulai mencium aroma sebuah misteri. Dan sebagai kanak-kanak menjelang remaja—di masa itu—seketika hatiku bersorak. Aku suka misteri. Dan kurasa seluruh anak-anak di dunia ini menyukai cerita misteri dan petualangannya.

Namun sayangnya, aku tak menemukan petunjuk apa pun untuk memecahkan misteri: Kenapa ayah muntah setiap kali aku mengatakan melihat bangkai anjing? Beberapa tahun berlalu dan hal itu tetaplah menjadi misteri, sampai saat aku kelas 3 SMP dan aku mengatakan sepulang sekolah, kami menabrak seekor anjing sampai mati. Ayah langsung menampar dan menendangku.

Baca juga: Kue Itu Memakan Ayahku – Cerpen Guntur Alam (Kompas, 04 Maret 2018)

Aku tercengang dalam beberapa detik. Setelahnya, saat rasa sakit menyerang akibat pukulan ayah, aku meraung. Ayah mencengkeram kerah bajuku, matanya mendelik dan dari bibir hitamnya yang telah digerogoti tembakau selama bertahun-tahun itu, terluncur kata-kata. “Sekali lagi kau bercerita tentang bangkai anjing di depanku, aku tak segan menghajarmu.”

Saat ayah melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku, aku seketika bangkit dan menghambur ke dalam kamar. Meninggalkan meja makan dan wajah ibu yang pias. Kubanting pintu kamar dan mengepal tinju. Ada perasaan marah yang menggelegak dalam dadaku, seperti air panas yang mencapai titik didih.

Sejak malam itu aku membenci ayah. Dan untuk membalas dendam yang bersemayam, aku akan terus mencari kisah-kisah tentang bangkai anjing. Aku akan menikmati kemenangan saat melihat ayah muntah, menggigil, bahkan mengamuk padaku hanya gara-gara aku membangkang lantaran tak menuruti perintahnya untuk tak menceritakan perihal apa pun yang berhubungan dengan bangkai anjing.

Advertisements