Cerpen Yulputra Noprizal (Rakyat Sumbar, 29-30 September 2018)

Kedai Tek Opet dan Ipul ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Kedai Tek Opet dan Ipul ilustrasi Rakyat Sumbar

KEDAI Tek Opet, kedai kelontong, tak lagi berisi. Kerupuk-kerupuk yang bergelayut dan telur asin itik yang biasa tersedia di meja sudah tak ada. Penjual sudah enggan menitipkannya di sana karena sebanyak dititip sebanyak itu pula berlebih. Begitu pun kerupuk, lebih separuh dalam keadaan masuk angin. Ada dua buah pepsodent, dua buah sabun mandi batang, gula seperempat tiga bungkus, dan lima bungkus kopi Nur di rak berdebu. Botolbotol dalam keranjangnya sudah tak lagi disi karena modal Tek Opet sudah menipis. Bahkan kandas. Di etalase mi rebus, mi goreng, dan beraneka obat eceran sudah kadaluwarsa.

Beredar gunjing di antara para tetangga, bahwa ada yang menanam penggelap mata di depan kedai Tek Opet. “Penggelap mata” itu ditanam supaya mata orang tidak lagi memandang ke kedai. Jika ada orang yang berjalan menuju kedai Tek Opet, akan balik, karena aura dari “penggelap mata”.

Itulah gunjing. Tapi sungguh, sejak dikelola oleh Ipullah kedai Tek Opet kian hari kian lengang isinya. Ipul menantu Tek Opet. Ia bermuka seperti petak dengan rambut yang ikal. Tidak punya kerja. Tek Opet sudah memperingatkan anaknya, Dewi, sebelum kawin dengan Ipul.

Ndak menyesal kau kawin dengan Ipul. Setahu amak, sejak tamat SMA, ia ndak bekerja.”

Baca juga: Pertemuan – Cerpen Yulputra Noprizal (Haluan, 29 Juli 2018)

Indak, Mak. Nanti siapa tahu setelah berumah tangga, pikiran Uda Ipul terbit.”

Seminggu setelah menikah, Ipul tidak juga ada tanda-tanda akan bekerja. Sebulan berumah tangga, Tek Opet mulai gelisah. Menantu satu-satunya tidak punya pekerjaan. Apa kata orang sekampung. Tapi raut muka Tek Opet sudah terbaca oleh Ipul. Dan Ipul pun mendatangi Tek Opet di dapur siang itu.

“Daripada aku indak ada bekerja, biarlah kedai aku yang jaga, Mak. Suntuk di rumah tiap hari hanya bermenung,” kata Ipul.

Tanpa pikir panjang, Tek Opet langsung mengiyakan permintaan Ipul. Mulailah Senin itu jam enam pagi Ipul membuka kedai, papan yang dibuka satu-satu. Ipul duduk di palanta kedai, memandang jalan yang masih menyisakan gelap. Agak dingin. Lalu terpikir olehnya untuk membikin teh telur. Rokok ia ambil sebungkus dari etalase. Duduk di palanta kedai, Ipul menyalakan rokok sembari menikmati teh telur. Dan mendengarkan burung-burung berkicau dari semak-semak di seberang jalan.

Advertisements