Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

Tuba ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesia
Tuba ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

Lupakan asap-asap yang memburai dari air panas Terunjak, yang mengeluarkan aroma belerang, mengalir melalui parit-parit kecil. Pohon besar berkonde menjadi saksi pengunjung yang merebus telur dalam air panas yang keluar dari celah batu, kemudian memakannya, karena tak ada kios pun penjual makanan di celah hutan itu. Orang-orang kota yang datang setahun sekali, bila ada bakti sosial atau program pemerintah ke tempat terpencil itu, dengan roman berhias seulas senyum, senyum kepedulian atau berpura-pura belaka; tidak ada yang tahu. Datu dan orang-orang berdarah asli yang terus tinggal di situ, memikirkan masalah-masalah tidak masuk akal yang mengancam penduduk, lebih tepatnya mengancam kewarasan Datu dan orang-orang itu sendiri.

Jangan minum di sembarang rumah saat bertamu, bisa jadi minuman itu telah dicampur tuba.

Pak Jalintang dengan kumis melintang, berbadan tegap laksana prajurit bintang tiga, kini badannya hanya tersisa kulit dan tulang, semenjak menderita batuk-batuk berdarah. Ia telah minum racun serbuk di rumah Marah Batu, saat bertamu dalam rangka mengundang Marah Batu pada acara pernikahan Asmi, putri sulung Pak Jalintang. Ternyata Marah batu masih menyimpan dendam; pinangan anaknya pernah ditolak Asmi yang sudah memiliki pujaan hati. Sepulangnya dari rumah Marah Batu, Pak Jalintang mulai batuk-batuk, bulan berlalu, batuk itu semakin parah, yang kemudian mengeluarkan darah. Dugaan tersebut diperkuat oleh Dukun Jeroh, di mana Pak Jalintang berobat, dukun sakti yang diyakini memiliki banyak pengikut dari rimba selatan. Sang dukun berfatwa, segala sesuatu bermula dari rumah Marah Batu yang beraroma iri bercampur dengki.

Baca juga: Sore Sebelum Kenduri – Cerpen Ida Fitri (Republika, 22 Juli 2018)

Sore itu, Datu dipanggil ke rumah Pak Jalintang yang terkulai lemas di atas tempat tidur setelah muntah banyak darah. Datu datang tergopoh sambil menenteng infus, gunting, plester dan beberapa perlengkapan lainnya. Seorang kerabat Pak Jalintang melarang Datu untuk memasang infus, “Bila disuntik, penyakit berbau keduniawian seperti ini tidak akan pernah bisa sembuh lagi.” Datu melirik istri Pak Jalintang yang membeku di samping tempat tidur, jendela di ruang itu sudah dipalang dengan kayu, tak bisa dibuka sama sekali. Datu menghela napas dalam keraguannya sendiri tentang Tuberculosis yang bersumber pada tuba, serbuk racun berisi kuman; lagi sebuah pintu tertutup dalam kepala Datu. Datu telah menghirup udara Kampung Bunin, masuk melalui paru, menjadi darah dan daging, Datu telah mandi air sungai Bunin, masuk melalui pori-pori kulit, larut dalam darah dan daging.

Advertisements