Cerpen Saleojung (Suara Merdeka, 23 September 2018)

Tangisan dari Bawah Tanah ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Tangisan dari Bawah Tanah ilustrasi Suara Merdeka

Setiap kali bercermin, ia makin melihat jelas apa yang ada di raut wajahnya. Kadang ia berkaca sambil menilik-nilikkan muka. Ya, menilik-nilikkan muka bukan karena ada bekas coretan luka di pipi kanan. Namun lebih dari itu.

Malam itu, di hadapan cermin, dia terus membiarkan pikirannya melayang jauh ke suasana yang ia lihat sebelumnya, ketika sepasang matanya melirik padang rumput hijau yang terhampar di belakang kamarnya. Di sana tampak sebuah siluet dari masa yang menarik keinginannya untuk memutuskan tinggal di tempat itu.

Waktu itu ia masih seumuran anak SMP. Banyak hal menarik di tempat itu. Negeri Barbar, begitu orang-orang menyebut. Negeri yang lumayan jauh dari pantai. Namun keindahannya jauh melebihi pemandangan dan suasana pantai ketika matahari bersenyawa dengan warna jingga. Juga burung-burung yang beterbangan kala sore meredup menjemput kembali para nelayan ke peraduan, tempat mereka akan menghitung bulir keringat dari keluasan samudra tanpa tepi.

Baca juga: Dajjal di Kampung Surga – Cerpen Mazka Hauzan (Suara Merdeka, 05 Agustus 2018)

Negeri Barbar punya keindahan lain. Alam yang bersih, berbagai bunga berjejer rapi di tepi jalan menuju rumah Kiai Halim. Warganya pun ramah. Apalagi ada cerita seorang perempuan seumuran yang berambut merah. Dia sangat senang bila Ramadan hampir tiba. Saat itulah, Negeri Barbar mengadakan syukuran.

Sebagai adik dari seseorang yang menjadi abdi di Negeri Barbar, tepatnya di rumah Kiai Halim, ia senang. Karena, saat itulah ia akan bertemu kembali dengan perempuan berambut merah, anak Kiai Halim. Telah lama dia memuja, walau sebatas saling pandang dari jauh. Bagi dia, sangat tidak mungkin mendekati. Apalagi sampai menjalin hubungan serius dengan perempuan berdarah biru itu. Ia hanya tamu dari sang kakak yang menjadi abdi.

Namun masa itu sudah hambar. Tidak ada lagi yang patut dia banggakan dari Negeri Barbar dan perempuan berambut merah itu, selain puing-puing kenangan yang berserakan di tempat yang sering dia lihat. Semenjak kepergian Kiai Halim, suasana di Negeri Barbar mendadak berubah. Berbagai tanaman yang dulu berjejer rapi di jalan menuju rumah Kiai Halim, kini mati. Penduduk kampung tak lagi ramah. Apalagi setelah kabar yang menghantam dia bahwa perempuan itu telah diusir beberapa warga, karena menyekap seorang lelaki di dalam kamarnya. Sungguh, itu di luar dugaan.

***

Advertisements