Cerpen Fachru Rozi (Analisa, 23 September 2018)

Pion Catur ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa
Pion Catur ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

BAPAK selalu bilang. Tak ada yang lebih berharga di dunia ini kecuali detik yang baru saja lewat. Sebab kita tidak akan bisa kembali ke waktu itu lagi. Jangan sia-siakan sebelum derap waktu terus membawa tubuh kita menjauh meninggalkan sesuatu yang disebut dengan masa lalu. Pada akhirnya semua hanya akan menyisakan sesal yang tak berkesudahan seperti yang dialami dirinya. Menangisi sesuatu yang muskil kembali.

Kurang lebih begitu kata-kata yang sering terlontar dari mulut bapak ketika aku dan dirinya bermain catur di beranda rumah. Lesung pipitnya mulai samar, sebab dilahap usia perlahan tertarik ke belakang ketika aku memperhatikan setiap kata-kata yang ia ucapkan. Sering kali buah catur yang tersusun rapi di atas papan caturnya, hanya menjadi penonton. Itu, ketika aku mulai larut dengan semua ceramah yang diberikan bapak. Bukan sekedar ceramah. Aku lebih suka menyebutnya sebagai pelajaran hidup.

“Aku kalah,” lenguhku pelan ketika tatapanku jatuh ke pion-pion catur itu.

Baca juga: Siapa Pembunuh Mira Marcela – Cerpen T Agus Khaidir (Analisa, 16 September 2018) 

“Berpikir! Setiap masalah selalu punya jalan ke luar,” sergah bapak. Sambil dia menyulut rokok tembakaunya untuk yang ke sekian kali.

“Aku tidak akan menang jika bermain catur melawan Bapak.”

“Hahah…” barisan gigi bapak yang mulai menguning jelas terlihat, “sebelum kau belajar bagaimana untuk menang, kau harus belajar bagaimana caranya untuk belajar.”

Suasana senyap. Dahan-dahan pohon kelapa yang saling bersentuhan di seberang rumah merambat perlahan dalam telinga.

Baca juga: Ciprut Melihat Badut – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 09 September 2018)

Lipatan-lipatan di keningku semakin tebal. Seisi kepalaku mencoba mencerna setiap kata-kata yang terlontar dari mulut bapak. Selalu saja gagal. Aku cuma bisa menggelengkan kepalaku kemudian menunduk.

“Langkah. Dalam bermain catur kau harus perhatikan langkahmu. Setiap langkah besar selalu berawal dari langkah kecil yang hati-hati. Begitu pula dengan hidup.”

Aku mengangguk tanda mengerti, “Tapi aku tetap saja sudah kalah,” kedua alis mataku hampir bertemu ketika melihat wajah Bapak.

Advertisements