Cerpen Mukti Sutarman Espe (Radar Banyuwangi, 23 September 2018)

Perkawinan Akhirat ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Perkawinan Akhirat ilustrasi Radar Banyuwangi 

Ibu akan menikah lagi! Berita yang sungguh mengejutkan. Betapa tidak, tahun ini usia ibu menjelang 67 tahun. Apa yang dicari ibu dengan pernikahan itu? Kebutuhan ekonomi? Ah, tidak mungkin. Dengan uang pensiun sebagai guru golongan III/b, ditambah bantuan kami, anak-anaknya, kecil kemungkinan ibu mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kepuasan seks? Rasanya terlalu gegabah dan keji bila mengatakan begitu. Lalu apa?

Itulah pertanyaan yang menyesak di dada kami, anak-anaknya. Mas Jum, kakak sulung yang tinggal paling dekat dengan rumah ibu berkali-kali menanyakan hal itu. Tetapi, kata Mas Jum, ibu tidak pernah menjawab dengan jelas. Alhasil, hingga kini kami belum tahu kapan dan dengan siapa ibu akan menikah.

Situasi demikian tentu membuat kami jadi risau dan repot. Di satu sisi kami merisaukan kondisi kejiwaan ibu, di sisi lain kami harus makan hati setiap kali mendengar gunjingan miring dan tatap mata mengejek dari tetangga dan atau dari orang-orang lain yang mengenal keluarga kami serta mengetahui rencana ibu.

Baca juga: Mbah Nu Menangis Tersedu – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 23 Juli 2017)

Agar secepatnya bisa keluar dari situasi runyam itu, kami memutuskan untuk mendatangi ibu, bersama-sama menanyakan prihal keinginan beliau. Sebelum bertemu di rumah ibu, lewat telepon, aku sudah pesan kepada Sri dan Bas, kedua adikku. Pesan dan wanti-wanti serius terkhusus untuk adik bungsuku, si Bas, agar bersikap hati-hati serta bisa menahan emosi saat berhadapan dengan ibu nanti. Hal itu kuanggap penting sebab dia sudah sangat emosional dalam menyikapi keinginan ibu.

Tiga hari lalu, aku dapat laporan dari Mas Jum, Bas mendatangi ibu dan keduanya bertengkar seru. Karena tidak bisa mengendalikan diri, Bas menyerapahi ibu dengan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan seorang anak kepada ibunya. Dari pertengkaran itulah rahasia keluarga kami dengan cepat diketahui oleh tetangga kanan kiri lalu menyebar hingga ke mana-mana. Sekalipun akhirnya Bas menyadari kesalahannya dan sudah minta maaf kepada ibu, aku tidak mau peristiwa memalukan itu terulang.

Baca juga: Juru Kunci Makam Eyang Sakri – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 27 November 2016)

“Aku tidak ikut, Mas,” kata Bas, kemarin malam, saat menerima ajakanku lewat telepon.

“Kenapa?”

“Aku tidak setuju kalau ibu kawin lagi!”

“Lha iya, kenapa engkau tidak setuju?”

“Aku malu. Masak perempuan setua itu mau kawin lagi.”

“Yang kamu maksud dengan perempuan setua itu, siapa?”

Advertisements