Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 23 September 2018)

Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

KABAR itu seperti ikut terbawa daun-daun yang dihembuskan angin segala arah. Kabar tentang pintu yang tiba-tiba ada di pinggir hutan belantara, pintu yang dapat membawamu ke tempat yang kauinginkan.

Orang-orang di sekitar tempat itu kemudian segera teringat bila beberapa hari sebelumnya, ada seorang laki-laki yang melintasi desa sambil menyeret sebuah pintu besar dengan tali yang dikalungkan di dadanya. Ia tak bicara apa-apa. Tapi beberapa orang yang melihatnya menyimpulkan kalau ia hanyalah orang gila yang kebetulan lewat.

Tapi tentu saja ia bukan orang gila. Ia memang memutuskan tak banyak bicara, karena yang dibawanya memang bukanlah pintu biasa. Itu adalah pintu yang dikabarkan oleh kabar angin hari ini. Pintu yang dapat membawa siapa pun ke tempat yang diinginkannya.

Baca juga: Kasus – Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 23-24 Juni 2018) 

Bertahun-tahun, laki-laki itu tak pernah tahu kalau pintu yang diletakkan begitu saja di halaman rumah, bukanlah pintu biasa.

Ayahnya tak pernah membicarakan apa-apa tentang pintu itu. Rasanya ada banyak hal yang lebih perlu dibicarakan ketimbang sekadar itu. Walau sebenarnya keberadaannya cukup menimbulkan tanda tanya. Ukurannya sedikit lebih besar dari pintu-pintu rumah pada umumnya, dan posisinya yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kondisi tergembok dengan rantai besi yang mulai berkarat.

Tapi, itu seperti dibiarkan seakan bukan suatu yang penting. Saat ia berusia 10 tahun, ayahnya malah lebih memilih menceritakan tentang jati dirinya, kalau ia bukanlah anak kandungnya.

Baca juga: Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek – Cerpen Yudhi Herwibowo (Jawa Pos, 27 Mei 2018) 

“Kau tahu, aku tak pernah menikah, jadi aku tentu tak akan memiliki anak,” ujar ayahnya. “Sejak muda, aku tahu kalau aku ditakdirkan untuk hidup sendirian. Tapi, Yang Kuasa berbaik padaku. Melalui burung besar yang kerap melintasi gunung ini, ia mengirim dirimu ke sini. Dan aku merawatmu hingga sekarang.”

Laki-laki itu mengingat sekali kisah itu. Itulah yang membuatnya merasa kalau sejak kecil ia sudah mengalami kisah luar biasa. Apalagi sampai sekarang, ia masih melihat burung besar itu mampir ke sekitar rumah ini ditemani kawanannya. Ia akan hinggap di pohon besar di sebelah kursi panjang di mana ayahnya selalu duduk. Kadang ia membawa sesuatu di paruhnya yang dilemparkan begitu saja di dekat kaki ayahnya.

Advertisements