Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 23 September 2018)

Kesetiaan Kader ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kesetiaan Kader ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

KARIER Gembus di dunia politik semakin menanjak dengan diikutsertakan dalam seleksi kader terbaik.

Namun, untuk mencapainya tentu saja tidak semudah bersin. Gembus berkumpul bersama empat belas kader pilihan. Kesetiaan adalah harga paling mahal, demikian pidato ketua Partai Aduhai. Oleh karena itu, wawancara kali ini untuk memilih kader yang pantas mencalonkan diri untuk duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Rakyat Lucu, dari fraksi Partai Aduhai untuk daerah pemilihan Kabupaten Cengar, Kabupaten Cengir.

“Kalian siap?!”

“Siap!” jawab lima belas kader kompak.

“Kalau begitu selamat datang. Sekarang minum air di dalam gelas di meja kalian, tunjukkan kesetiaan kalian! Orang yang setia, akan menuruti perintah apa pun yang diberikan,” kata ketua Partai Aduhai, tegas.

Baca juga: Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? – Cerpen Eko Triono (Kompas, 28 April 2013)

Satu persatu kader minum disaksikan sejumlah senior. Ada yang dengan sekali tenggak. Ada yang dengan menutup hidung seperti menghadapi jamu paling pahit. Ada yang celingak-celinguk lebih dahulu seperti kambing kehilangan arah hidup. Ada yang menahan mual muntah dan menelan kembali muntahannya sebelum keluar dari mulut.

Kurang dari satu menit, bereslah empat belas kader meminum air kesetiaan partai. Tetapi, malah tidak dengan Gembus. Dia hanya menengok sebentar isi gelas, kemudian mendiamkannya. Sungguh sikap yang bisa berakibat buruk pada kariernya di partai politik. Ketua Partai Aduhai jelas saja marah melihat sikap kader Gembus yang belum apa-apa sudah berani menentang. Empat belas temannya, tahu sikap sahabat batin partai sedemikian, segera mendesak Gembus agar segera meminum segelas air kesetiaan.

Baca juga: Kesunyian Ini, Kambing Sekali Rasanya – Cerpen Eko Triono (Tribun Jabar, 20 Mei 2018)

Rasanya segar, kata teman sebelahnya, seperti jus. Tidak apa. Jangan sia-siakan kesempatan ini, kata temannya lagi, demi masa depan. Gembus tetap membangkang.

“Kenapa kamu tidak mau? Kamu tidak setia kepada partai?!” bentak ketua Partai Aduhai.

“Siap! Saya setia kepada partai, tetapi lebih setia kepada akal sehat. Saya tidak mau meminum segelas air bercampur kencing yang baunya saja mirip kencing kuda.”

Advertisements