Cerpen Aslan Abidin (Kompas, 23 September 2018)

Kematian Kedua ilustrasi I Wayan Suja - Kompas.jpg
Kematian Kedua ilustrasi I Wayan Suja/Kompas 

Lelaki tua itu akhirnya benar-benar meninggal dunia. Jenazahnya ditutupi kain hitam dan diltakkan di atas tikar daun lontar di ruang tengah rumahnya. Sebuah rumah panggung suku Kajang.

Orang-orang bersedih melayat mayatnya. Menyingkap kain yang menutupi wajahnya seolah hendak meastikan bahwa ia sungguh sudah tak bernyawa. Juga diam-diam berupaya melihat satu tanda.

Sebuah keloid. Bekas luka yang menebal dan timbul di kulit. Serupa seekor lipan. sebesar—namun sedikit lebih panjang—jari telunjuk orang dewasa. Lengkap dengan kaki-kaki dari bekas jahitan kasar di kedua sisinya. Melingkar agak miring di sisi kanan lehernya.

Baca juga: Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan – Cerpen Ranang Aji SP (Kompas, 12 Agustus 2018)

Sappe meyakini dan orang-orang percaya bahwa dirinya sudah pernah mati. Hanya keajaiban membuatnya hidup kembali. “Nakke maengnga’ mate, mingka attallasa’asse’” begitu ia sering berkata memulai ceritanya. Saya sudah pernah mati, namun hidup kembali. Sebuah kalimat yang akan membuat orang-orang terhenyak, menunggu dia melanjutkan kisahnya.

Ia berusia sekitar dua puluh tahun menjelang musim hujan berakhir tahun 1956. Ketika itu, gerombolan DI/TII yang mereka sebut Gurilla, menyerbu suku Kajang di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Gurilla menyerang untuk memaksa membayar upeti, menghancurkan adat, dan agama orang Kajang.

Gurilla menganggap agama Kajang togut dan memaksa mereka berpindah menganut agama para Gurilla. Setelah berbagai pembakaran hutan dan permukiman, penganiayaan, penculikan, penembakan, serta pembunuhan, warga Kajang menolak tunduk. Ammatoa. selaku kepala suku bersama para pemuka adat Kajang, sepakat berjuang mempertahankan Kajang.

Baca juga: Dongeng Tarka dan Sarka – Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 19 Agustus 2018)

Para lelaki dewasa bergabung untuk menghadang serangan Gurilla di daerah luar kawasan adat, Ipantarang Embayya. Tujuannya agar Gurilla tidak masuk kawasan adat, Ilalang Embayya. Sebab bila berhasil masuk Gurila bisa membantai anak-anak, perempuan, orang tua, dan membakar permukiman mereka.

Advertisements