Cerpen Putra Hidayatullah (Koran Tempo, 22-23 September 2018)

Los Muertos ilustrasi Koran Tempo.jpg
Los Muertos ilustrasi Koran Tempo

DI BAWAH langit Meksiko mereka telah menyambutku. Bergelas-gelas tequilla dituangkan merata. Di sudut dekat sebuah meja kayu yang telah dipernis, tergantung sebuah lukisan mendiang penyair ternama yang kukagumi, Renato Leduc. Setahun sekali ia pulang dan kami bertemu di tempat kesukaannya ini. Pada mulanya hanya Renato sebelum kemudian ia mengisahkan tentang kawan-kawan barunya yang telantar dalam keadaan menyedihkan.

“Mereka adalah para penyair malang yang terbunuh oleh kediktatoran Porfirio Diaz. Karena tak terkenal, dan tak ada lagi keluarga yang mengenang, mereka terancam lenyap di alam sana.” Renato berkata padaku tepat pada malam Dia De Los Muertos lima tahun lalu. Aku lalu mencari gambar-gambar mereka di tumpukan arsip di tempatku bekerja. Dan berkat sisa-sisa gambar sebelum eksekusi yang dapat kutemukan, setiap setahun sekali kini mereka dapat pulang, seperti malam ini.

Mereka terlihat kurus dengan tulang pipi menonjol. Tetapi senyum mereka memancarkan sikap keras kepala dan semacam ketololan sehingga tampak seolah di sana tak pernah ada duka. “Don Pedro, tak kusangka, bandot juga kau rupanya!” Salah satu dari mereka berkata. Semuanya tertawa, aku tersenyum saja. Mereka merujuk pada sebuah puisi panjang yang kutulis untuk seorang perempuan di alam sana. Puisi itu muncul di koran ternama ibu kota.

“Tapi kau perlu belajar lebih banyak dariku. Ada bumbu gairah yang perlu ditambah,” ia berkedip nakal, sembari menggesekkan jari telunjuk di pipinya sendiri.

Baca juga: SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa) – Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 11-12 Agustus 2018)

Aku tersenyum dan berkata, “Katakan padaku, apa yang dapat dipelajari dari pembual yang sok puitis seperti kalian?” Dan di bawah kepulan asap cerutu tak berhenti kami tertawa sehingga berjam-jam waktu berlalu tanpa kami menyadarinya.

Di luar sana bintang berpendar-pendar dan sejenak langit menurunkan keheningan. Renato berkata padaku, “Ketika kau sudah di alam di sana, kau akan paham betapa berartinya sebuah ingatan, ya, semacam puisi yang dikirim oleh yang hidup kepada mereka yang telah mati.”

Dan ketika malam mulai larut, satu per satu pamit pergi melihat tempat-tempat lain yang menyimpan kenangan. Terpancar jelas dari wajah mereka ingin tinggal lebih lama. Tetapi waktu mereka tidak banyak. Semua hanya terjadi setahun sekali, di saat malam Dia De Los Muertos yang singkat seperti ini. Setelah ini mereka harus pulang kembali ke alam sana.

Di bar itu lalu aku tinggal sendiri. Pada akhirnya semua akan pergi, aku berkata pada diri sendiri. Kata-kata Renato terngiang. Mereka yang sudah di alam sana bergantung pada ingatan orang yang hidup. Aku membayangkan ketika aku meninggal nanti. Adakah yang akan mengenangku? Aku beranjak dari bar. Rintik hujan menyapa dan menyebarkan dingin ke sekujur badan. Ada yang menyeruak dalam diriku.

Advertisements