Cerpen Sam Edy Yuswanto (Minggu Pagi, 21 September 2018)

Senyum Ibu ilustrasi Minggu Pagi
Senyum Ibu ilustrasi Minggu Pagi 

Aira menatap sedih tubuh ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Kedua mata ibu terpejam. Bibir ibu yang mulai tampak mengeriput sedikit terbuka. Sesekali suara dengkur halus menguar dari kedua celah bibir beliau. Sepertinya ibu begitu pulas usai meminum obat yang barusan diberikan oleh Bu Bidan.

Di kampung Aira, tugas Bu Bidan memang tak sekadar membantu perempuan yang hendak melahirkan, tapi juga menjadi rujukan bagi warga sekitar yang tengah menderita sakit ringan seperti batuk, pilek, masuk angin, mencret, dan lain sebagainya.

Tadi pagi, usai shalat Subuh, Aira langsung panik saat menuju ruang dapur dan melihat raut ibu yang terlihat pucat tak seperti hari-hari biasa. Mulanya ibu menolak saat Aira mengajak berobat ke rumah Bu Bidan di kampung sebelah. Ibu hanya bilang kecapekan saja. Ibu langsung luluh saat Aira mengatakan satu hal yang membuat hati ibu terenyuh.

Baca juga: Kabut Asap – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Jawa Pos, 09 September 2018)

“Aira nggak mau Ibu kenapa-napa. Ibu satu-satunya orangtua Aira di dunia saat ini.”

Ayah pergi meninggalkan ibu saat Aira masih bayi. Dulu, ibu sempat berbohong pada Aira bahwa ayah sedang pergi kerja ke luar kota. Belakangan Aira baru tahu bahwa ibu sengaja berbohong agar dirinya tak bersedih. Ibu baru menceritakan kejadian yang sesungguhnya saat Aira sudah masuk SMA. Mulanya, Aira ingin marah sama ibu karena tak jujur sedari dulu. Namun setelah merenungi perjuangan ibu yang begitu besar untuk membesarkan dirinya, kemarahan Aira pun pupus. Yang tersisa justru rasa sayang yang begitu besar pada ibunya.

Advertisements