Cerpen Alfian Dippahatang (Rakyat Sultra, 17 September 2018)

Kawali dan Pistol ilustrasi Istimewa.JPG
Kawali dan Pistol ilustrasi Istimewa

Perjumpaanku dengan Rungka berakhir. Aku terkapar dengan satu luka tusukan yang kuarahkan ke jantung. Kawali di tanganku sudah menjadi malaikat maut. Perjuangan Rungka merebut hati orang tuaku selama enam tahun lebih sudah cukup membuatku yakin, dia lelaki bertanggung jawab dengan ucapannya, sekaligus membuatku yakin untuk mengakhiri siksa hatiku yang sudah menjadi bahan pergunjingan. Padahal, jika orang tuaku membuka celah kesempatan kepada lelaki pilihanku ini, mereka akan melihat Rungka sebagai buah kelapa yang jatuh jauh dari pohonnya. Juga tentu masih bisa melihatku hidup bergairah memasak di dapur.

“Bukan karena kami membebaskanmu memilih lelaki, kau tak mempertimbangkan lagi siapa keluarganya. Namun, dengan lelaki pilihanmu ini, kami tak akan memberi restu.”

Kalimat ini selalu berulang kudengar, saat bersamaan terus melubangi hatiku, dan aku tiba pada kesimpulan, bahwa memang tak ada titik harapan.

“Cari lelaki lain! Keluarga Rungka, tujuh turunan sudah dikenal sebagai pencuri.”

Ucapan orang tuaku yang terlanjur tak senang dengan keputusanku mencintai Rungka, tentu hanya bermaksud melebih-lebihkan cerita. Memang benar, kakek dan ayah dari Rungka dikenal di kampungku sebagai pencuri, tetapi kelakuan itu bukan warisan, lagi pula perbuatan tersebut dilakukan mereka di kampung orang lain dengan satu alasan yang mendesak. Sungguh padu ayah dan ibuku meringkas lika-liku hidupku bersama Rungka dengan menegaskan sesuatu yang makin membuatku yakin bunuh diri.

***

Baca juga: Prajurit yang Sakit Hati – Cerpen Alfian Dippahatang (Bali Post, 14 Januari 2018)

Aksi demonstran yang terus terdengar dari mulut ke mulut mendesak Soeharto mundur sebagai presiden menjadi pengingat tahun kedatangan lelaki berkulit sawo matang bernama Hasman ke rumah Kakek. Itu kali pertama dia datang setelah resmi bergabung di kepolisian. Dia datang menyodorkan pistol untuk dipakai berjaga-jaga, sekaligus menyodorkan kerja sama yang membuat Kakekku tak berpikir panjang untuk tidak menerimanya.

“Kakekku hanya mencari nasabah yang mau untung dalam sekejap. Namun, di hari kemudian, timbul masalah. Kata ayahku, jalan terbaik yang harus dilakukan untuk mengumpulkan uang secepatnya hanya dengan mencuri untuk menebus utang.”

“Utang itu dibayar ke mana?” tanya Ramlah penasaran.

“Utang dari Kospin yang pusatnya ada di Pinrang. Koperasi Simpan Pinjam ini menjanjikan bunga buat nasabahnya hingga lima puluh persen dari jumlah simpanan.”

Advertisements