Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)

Pencegahan Bunuh Diri ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Pencegahan Bunuh Diri ilustrasi Budiono/Jawa Pos

SAAT itu pukul dua dini hari. Pak Hurych berjalan pulang dari rapat Perkumpulan Anti Minuman Keras di sebuah restoran di Mala Strana. Rapat itu berlangsung amat lama karena mereka membahas pengunduran diri ketua mereka yang terlibat urusan tak elok. Si ketua ketahuan minum segelas bir pilsener. Sebagai orang terhormat, dia tentu harus mundur.

Pak Hurych berjalan ke arah rumahnya melintasi Jembatan Karel. Ia berjalan dengan kesadaran penuh kebahagiaan bahwa ia telah berbakti untuk kebaikan kemanusiaan. Ia masih bisa merasakan dinginnya air soda di perutnya. Jantungnya mudah terpacu yang mungkin bisa menimbulkan penyumbatan pembuluh darah jika saja dokternya tak melarangnya minum bir. Sudah setengah tahun ini ia berhenti minum minuman keras dan dengan bersemangat menyatakan perang terhadap alkohol. Ia adalah sekretaris Perkumpulan Anti Minuman Keras, berlangganan majalah Kemanusiaan, belajar bahasa Esperanto, dan hanya makan sayur-sayuran.

Lamunannya terhenti oleh suara teriakan dari arah Sungai Vltava. Itu semacam teriakan tengah malam para penyair muda yang bertarif 16 heller, jumlah yang layak dibayarkan untuk sebaris puisi penuh teriakan misterius tak dikenal yang muncul dari sungai dalam kesenyapan malam.

Baca juga: Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 12 Agustus 2018)

Pak Hurych berpegangan di atas pagar pembatas jembatan, lalu melongok dan berteriak ke arah sungai di bawahnya, “Perlu bantuan?” Ia tak bisa memikirkan kalimat yang lebih baik pada saat itu.

Saat Pak Hurych menatap penuh selidik seraya membungkuk ke arah sungai, penata rambut Bilek berjalan di jembatan itu ke arah Mala Strana. Dia bukan seorang penganut anti minuman keras, apalagi pada hari itu, tapi hatinya pun tak kurang mulia, dan dia tersentuh rasa kasih sayang terhadap Pak Hurych yang terhormat.

Mata tajam Pak Bilek melihat bahwa Pak Hurych membungkuk di pagar jembatan dengan posisi mencurigakan. Pak Bilek bukan orang yang suka berpangku tangan. Dengan perlahan dan diam-diam serupa gerakan kucing, tapi gesit dan cepat seperti lompatan macan, dia menyergap Pak Hurych dari belakang, merengkuh lengannya, dan berupaya menariknya ke permukaan jembatan. Pak Hurych melawan dan mencekal leher penyerangnya yang tak dikenal. Dua lelaki terhormat ini pun bergelut. Si penata rambut berseru, “Tenanglah, tak perlu putus asa!”

Advertisements